Siang itu, langit mendung mengiringi jalannya prosesi pemakaman Yogi. Nisa istrinya merasa sangat terpukul dengan kematian suami yang dicintainya. Lebih tepatnya satu-satunya lelaki yang berhasil memasuki relung hatinya. Dengan menggendong putri manisnya, uraian air mata Nisa seolah tak berhenti. Dia duduk dekat nisan sang suami.
Namun, tanpa disadarinya. Seorang wanita telah memeluknya dari samping kiri. Dia tak menyadari, hingga tiba-tiba dia menoleh. Nisa terkejut bukan main. Tangisnya meledak lagi.Wanita itu kembali memeluknya dengan erat. Arda nama wanita tersebut. wanita yang dulu pernah mengisi hari-harinya.
“Sabar Nis, ngga boleh nangis, kasihan Najwa kalo liat mamanya nangis terus. Kamu harus kuat ya,” hibur Arda. Akan tetapi, Nisa seolah tak bergeming. Dia menangis di senderan bahu Arda. Seolah hatinya hancur. Arda, wanita yang dulu pernah ia tinggalkan sekarang kembali lagi.
“Yuk Nis kita pergi dari sini. Kalo ntar kamu kangen sama abangmu, kamu bisa dateng ke sini,” bujuk Arda sembari mengangkat bahu nisa untuk berdiri. “Ada yang ingin aku ceritakan, ini menyangkut abang mu,” tambah Arda untuk membujuk Nisa agar beranjak dari pemakaman ini.
Hujan gerimis sudah mulai dirasakan, Arda, Nisa, dan putrinya Najwa pergi meninggalkan tanah pemakaman. Najwa putri yang manis. Dia masih polos dan lugu. Melihat mama nya menangis, dia tetap dengan senyumnya yang mengembang. Seolah-olah dia ingin memberikan support kepada mama nya.
********************************************************
Di dalam mobil, Nisa masih terlihat sesenggukan. Matanya basah. Dia menerawang melihat keluar. Namun tatapannya kosong. “Nis, Bang Yogi menitipka ini padaku sebelum dia meninggal. Maaf ya, aku nggak ngasih tahu kamu kalau aku pergi ke rumah sakit saat abangmu dirawat,” ungkap Arda tiba-tiba.
Arda memberikan sebuah surat. Surat yang masih ada bercak darah di amplopnya. Ya, itu adalah darah segar bang Yogi. Entah apa yang membuat penasaran Nisa. Ada rasa yang sangat kuat untuk Nisa membaca surat itu. anehnya lagi, surat itu diberikan untuk Arda, bukan dirinya. Hanya satu yang dia ingat sebelum kematian Yogi, jaga Najwa. Ya,
hanya itu, tak ada yang lain.
Dengan tangan bergetar, Nisa membuka perlahan surat itu. Perasannya campur aduk.
Hallo Arda, gimana kabarmu? Semenjak aku sakit, kita hampir nggak pernah ketemu ya. Mungkin ketika kamu mendapat surat ini, kamu kaget. Tapi ada hal penting yang ingin aku utarakan sama kamu.
Aku sebenarnya tahu sejak sebelum aku menikahi Nisa. Aku tahu hubungan kalian. Kalian bukan hanya sekedar sahabat. Kalian memiliki rasa. Aku melihat itu ketika kalian saling bertatap. Tatapan kalian bukan tatapan sahabat. Mata memang tak pernah bohong.
Mungkin aku memang sudah salah, menikahi wanita yang tak cinta dengan ku. Namun, aku tahu kini saatnya. Semenjak dokter memvonis umurku tak lama lagi karena leukimia ini, aku berpesan untukmu. Jaga dengan baik Nisa dan Najwa ya da. Jadilah penggantiku. Karena aku tahu, rasa cinta Nisa ke kamu tak pernah surut. Dia menikah denganku karena paksaan orang tua.
Aku rasa, itu saja cukup pesanku. Sekali lagi titip Nisa dan Najwa ya.
Your Best Friend
Yogi
Perasaan Nisa langsung campur aduk, dia menangis sejadi-jadinya. Arda yang tak kuat melihat orang yang dicintainya menangis, memeluk Nisa dengan kuat. “Nis, sabar ya, tabah, aku akan selalu ada buat kamu sama Najwa,” hibur Arda.
Nisa melepas pelukan Arda. Sementara mata pilunya menatap mata Arda. Benar yang dikatakan Yogi, Nisa masih suka dengan Arda. Tatapan matanya itu tatapan cinta. Arda
kembali memeluk Nisa, memeluk dengan lebih dalam, mengobati sakit hati Nisa.
*********************************************************
Pagi itu, kesibukan terjadi di rumah Nisa. “Nisa, ayo dong cepet, ntar kita kena macet buat masuk ke tempat wisuda,” teriak mama Nisa. “Iya, bentar kenapa?” jawab Nisa.
Rr. Annisa Cahya Suprapto, itu adalah nama panjang Nisa. Pagi ini Nisa akan diwisuda menjadi sarjana dari salah satu universitas di Jogja. Dengan kebaya merah marun nya, nisa berjalan ke arah ruang tamu. Mama kaget. “Loh, kok toganya belum dipake?” tutur mama Nisa. “Sini-sini mama pasangin.”
Mama Nisa terlihat sibuk. Beliau memang paling antusias. Bagaimana tidak sibuk, Nisa adalah anak wanita satu-satunya. Nisa adalah anak tunggal dari salah satu pasangan yang masih ada hubungan darah dengan keluarga Kraton Jogja. Oleh karena itu, nama Nisa memiliki gelar raden roro di depannya.
“Assalamualaikum, wah, Nisa cantik tante,” tiba-tiba suara Arda mengagetkan Nisa dan mamanya. “Iya dong aku cantik.... emang kamu ganteng,” timpal Nisa sambil mengedipkan sebelah mata. Tentunya hal ini tidak diketahui oleh mama Nisa.
Arda Yohana, wanita tomboy itu orang terdekat Nisa. Mereka berpacaran sudah sejak dua tahun lalu. Sejak mereka sama-sama kuliah di universitas yang sama. Bedanya, Arda lulus terlebih dahulu, sedangkan Nisa belum. Tugas Arda pagi ini adalah untuk memotret momen bahagia ini.
Setelah memasang toga Nisa, mamanya pergi ke belakang. Menitipkan rumah sekaligus pamit sama emban, orang yang bantu-bantu di rumah Nisa. Melihat kesempatan itu, si Arda langsung saja mencium pipi Nisa. “Eh kalo ketahuan mama gimana? Di depan juga ada papa,” ungkap Nisa dengan pelan. “Ah nggak bakal ketahuan, kan cuman sekilas, kamu senang juga kan tapi,” rayu Arda sambil mengedipkan mata.
“Ayo berangkat! Nak Arda ikut tante sama Om aja ya, mobilnya taruh disini aja,” ucap mama Nisa mengagetkan. “Siap tante,” ucap Arda dengan sikap seolah-olah hormat kepada atasan.
********************************************
Sore sudah semakin beranjak. Arda datang ke rumah Nisa untuk memenuhi undangan makan malam syukuran wisuda Nisa. Dengan langkah semnagat Arda tiba di rumah Nisa. Tidak banyak tamu yang datang, Cuma ada tante-tante dan om-om Nisa serta Eyang Nisa.
Namun ada sedikit yang berbeda, ada seorang cowok gagah berbadan atletis yang tidak Arda kenal. Arda memang cukup mengenal keluarga Nisa karena dia pernah diajak Nisa dalam satu pertemuan keluarga besar. Namun, cowok itu kembali menarik perhatian Arda, apalagi yang duduk di sebelah cowok itu juga bukan om dan tante Nisa. Arda kemudian berpikir, “mungkin keluarga Nisa dari luar kota,” pikir Arda saat itu.
Tidak lama kemudian acara dimulai. Acara itu langsung dibuka oleh papa Nisa. Setelah basa-basi singkat yang diberikan oleh papa Nisa, mama Nisa dengan senyum melanjutkan acara.
“Baiklah, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas kehadirannya. Saya disini akan mengumumkan hal penting. Nisa disini sudah besar, saya dan papanya berniat untuk menjodohkan Nisa dengan putra teman kami. Yogi Ananda Putranto. Sini nak Yogi mendekat,” tutur mama Nisa.
Seketika itu hati Arda memanas, matanya berkaca-kaca. Dia sudah tidak fokus. Dengan tanpa permisi, dia meninggalkan acara itu. Nisa tak kalah kagetnya, dia tak mengetahui rencana perjodohan ini. Nisa menatap Arda nanar, Arda pergi, pergi meninggalkan keriuhan pesta yang seharusnya juga Nisa rasakan.
***********************************************
Tatapan mata Nisa kosong. Seharusnya hari ini adalah hari bahagia dimana dia akan menjadi seorang pengantin. Menjadi istri sah dari Yogi. Pasangan yang dipilih oleh orang tua Nisa. Bukannya tak suka, namun Nisa masih memikirkan Arda. Apakah Arda akan datang di pesta pernikahannya?
Perasaan Nisa berkecamuk. Yogi pada dasarnya adalah orang yang baik. Dia terlihat bertanggung jawab, mapan, dan sangat sayang dengan Nisa. Namun, perasaan memang tak pernah dibohongi. Nisa masih mencintai Arda. Wanita yang selama ini telah mengisi hari-harinya.
“Nisa, ayok! Akad nikah sudah akan dimulai,” suara sepupu Nisa yang menjadi pendamping pengantin mengagetkannya. Dengan langkah gontai Nisa mengikuti suara itu. Dia berjalan ke arah meja akad nikah. Dia menyapukan seluruh pandangan ke arah tamu.
Terkejut dia mendapati seorang wanita dengan style seperti yang selama ini dia kenal. Arda datang, dia duduk di bagian belakang. Arda tersenyum. Namun, hati Nisa seolah teriris melihat senyum Arda. Dia masih mencintai Arda.
********************************************************
Namun, pernikahan dengan Yogi bukan sesuatu yang mudah buat Nisa. Dia merasa bersalah dengan Yogi. Yogi terlampau baik untuk Nisa. Dia lelaki yang bertanggung jawab, tak mengenal yang namanya membentak istri, dan sangat perhatian. Perhatiannya sangat berlebihan tatkala Nisa hamil. Kekhawatirannya menjadi-jadi saat Nisa akan melahirkan.
Akan tetapi, semua itu seolah sirna. Nisa merasa bersalah dengan sikap dinginnya terhadap Yogi selama ini. Saat ini, Yogi terbaring di ruang ICU rumah sakit swasta di Jogja. Dokter memvonisnya leukimia stadium tiga. Ini fase kritis. Dokter menyarankan untuk tabah kepada Nisa.
****************************************************************
Suara deru mobil memasuki pekarangan rumah Nisa. Dia bisa memastikan itu suara mobil siapa. “Mama Alda....” suara cadel Najwa memanggil Arda. Siang ini Arda mengunjungi rumah Nisa bukan untuk berkunjung seperti biasa. Dia sudah menetapkan hatinya untuk tinggal di rumah Nisa dan memenuhi janji Yogi.
No comments:
Post a Comment