Tuesday, November 1, 2011

Great October, Great DENDI

Bulan sudah berganti ke November, nggak terasa ya. Setelah kemaren rasanya baru menghirup Oktober dengan segala persiapan kerennya. Hahaha....

Oktober menurut saya adalah bulan paling indah selama kuliah. Banyak sekali hal-hal menarik yang aku dapatkan di bulan lalu. Sejak dengan adanya pembukaan Kompas Muda, Gelanggang Expo, dan Great Camping yang sangat melelahkan namun fun banget. Semua itu aku ikuti dan banyak hal yang cukup menegangkan di dalamnya. Sesuatu lah pokoknya.

Kompas Muda, daftar menjelang detik-detik terakhir. Nyari-nyari soft file CV, eh kena virus. Dengan terpaksa bikin lagi deh, di warnet sore-sore balik kuliah. Diburu dengan waktu. Aku sih nggak begitu berharap dengan hasilnya nanti. daftar aja deh yang penting. Hasil belakangan aja. Kalo diterima juga bersyukur, berarti ini kali kedua saya bergabung dengan media cetak setelah Kedaulatan Rakyat. By the way, bukannya Kompas Muda adalah yang bakal jadi panitia Ultah Kompas ntar Januari ya. Wkwkwkwk, ya sudahlah, paling nggak memberikan sebuah koneksi aja...

Gelanggang Expo. Aku daftar di dua UKM lho. Paduan Suara Mahasiswa dan Bulaksumur Pos. Keduanya butuh sesuatu ekstra buat masuk. Gimana nggak, kita wajib mengikuti serangkaian seleksi yang cukup menguras waktu dan tenaga. Ecileh, sok deh aku. Wkwkwkwk. Aku dapet jatah seleksi PSM jam 22.30 lho, disuruh nyanyi gitu dilanjut dengan baca notasi yang aku banyak lupa dengan pengetahuan seni musik ku. Maklum lah, di SMA nggak dapet ilmu tersebut. Namun, alhamdulillah banget ya, Aku Diterima Jadi Anggota PSM #41 lho.... Rasanya menakjubkan. Oh iya, seseorang yang pernah menjadi obyek tulisanku yang berjudul GALAU juga diterima. Seneng deh, bisa satu organisasi. Inget, Aku masih sayang sama Kamu.

Selain itu, aku juga mendaftar di Bulaksumur Pos. Seleksinya sesuatu banget, dimana adaa FGD yang itu membuat aku sangat percaya diri ketika ngomongin tentang politik. Sampek Annis ngangguk-ngangguk dan menyetopku buat berhenti ngomong. Wkwkwkwkwk... Hasil belum keluar sih, ditunggu aja deh. ;)

Nah ini dia kegiatan yang menguras waktu, tenaga, otak, dan kantong. GREAT CAMPING. Sebagai ketua kelompok aku wajib cekatan dan pandai mengatur yang namanya anggotaku. Tugas pertama sangat beres dilaksanakan. Tugas kedua, video men!!! Ya udah deh akhirnya kita shooting di tempat Khansa, dan saya berperan jadi apa??? Lihat saja nanti. :)

Tak hanya itu, perform angkatan dengan tokoh utama MMXII, maskot kartun Kompas, aku jadi banci gitu men!!!! Fuck buat Heru yang bikin skenarionya. Tapi mau gimana lagi, aku wajib dan harus mematuhi role yang udah dibuat. Udah jadi dipotong lagi sama kakak angkatan pas nampil.

Great Camping juga banyak memberikan pengalaman berharga, dari yang males olahraga akhirnya dipaksa jalan, senam, yang nggak pernah masak dipaksa masak, dibentak-bentak dan aku banyak kena, lagi-lagi Annis sebagai tokoh utama ditambah dengan Ghora. Disuruh nari ala Nidji, Ayu Ting-ting, Dangdut koplo, and many more. Yang paling lucu adalah bentakan dari kakak angkatan ke temen-temen aku yang lain yang dianggap aneh. Wkwkwkwkwk...

Yah itulah Octoberku, paling nggak ada sesuatu yang aku hasilkan di bulan lalu. Belajar menapaki kehidupan supaya jadi Dendi yang lebih baik lagi. 2011 kurang 2 bulan lagi, itu artinya tahun 2012 umurku sudah 20 tahun. Semoga dua bulan terakhir bisa aku manfaatkan dengan baik untuk kehidupan yang lebih OK juga. Semangat DENDI....

Pengembangan Pariwisata di Era Otonomi Daerah Menuju Persaingan Global

Desentralisasi menjadi sebuah era baru pembangunan Indonesia. Sistem ini meletakkan pondasi pembangunan dengan memberikan otoritas kepada pemerintah daerah untuk mengembangkan daerah masing-masing. Salah satu yang menjadi unsur pembangunan otonomi daerah adalah sektor pariwisata. Memang masih ada bagian dari pariwisata yang menjadi kewajiban pemerintah pusat untuk pengelolaan, namun pembangunan dari beberapa destinasi wisata sudah menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.

Seiring dengan perkembangan sistem ekonomi dari sentralisasi ke sistem desentralisasi, pariwisata memiliki dampak nyata dari adanya perubahan sistem ini. Hal ini terlihat lebih berkembangnya pembangunan sarana dan prasarana di kawasan barat Indonesia, dibandingkan dengan yang terdapat di kawasan timur Indonesia. Hal ini juga terlihat dari pembangunan di sektor pariwisata, dimana kawasan Jawa-Bali menjadi kawasan konsentrasi utama pembangunan kepariwisataan. (Nirwandar, 2005:4)

Proyeksi menuju pasar global sudah didengungkan oleh pemerintah dan sektor penggerak wisata. Wisata bertaraf internasional menjadi proyeksi pembangunan selanjutnya untuk lebih menarik wisatawan mancanegara. Saat ini bila dilihat dari kecenderungan pasar global, destinasi wisata yang menjadi daya tarik wisatawan mancanegara adalah wisata alam dan budaya. Bila dilihat dari proyeksi ini, berarti kawasan timur Indonesia menjadi surga bagi wisatawan dengan pantai yang indah, sumberdaya laut dengan keindahan terumbu karangnya, serta masih perawannya kawasan hutan. Ini adalah sumberdaya yang wajib dikembangkan dengan berbasis lingkungan (ecotourism).

Salah satu penggerak dari pariwisata ini adalah Kabupaten Sleman. Sesuai dengan kewenangan otonomi daerah, Kabupaten Sleman memulai pembangunan pariwisata dengan berbasis pada mengeksplorasi alam tanpa merusak. Pembangunan ini terlihat dengan banyaknya desa-desa wisata yang dikembangkan, selain untuk eksplorasi alam sekitar, wisata jenis ini juga bisa digunakan untuk mengenalan kearifan lokal sebagai wisata budaya.

Selain wisata dengan basis alam dan budaya, pengembangan wisata internasional saat ini juga mengembangkan wisata MICE, meeting, incentive, convention, dan exhibition. Pengembangan ini dilakukan agar pariwisata dinikmati bukan hanya sekedar sebagai refreshing, namun lebih dari itu. Dari tipologi wisata ini, pembangunan berkelanjutan berbasis masyarakat juga akan terpenuhi. Sebagaimana salah satu tujuan dalam UU No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan pada pasal 4 bahwa kepariwisataan bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Melalui program wisata MICE inilah pertumbuhan ekonomi dari berbagai sektor akan tumbuh.

Kelemahan Pariwisata Indonesia
Akhir-akhir ini banyak sekali dipromosikan area-area baru wisata yang cukup indah dan menarik di beberapa kawasan timur Indonesia, sebut saya seperti Wakatobi dan Raja Ampat. Dua tempat ini seakan menjadi surga dunianya pada wisatawan mancanegara dan domestik. Namun sayang, sarana dan prasarana yang ada untuk akses menuju dua tempat itu agak sulit. Namun semenjak adanya Sail Wakatobi, wilayah ini semakin terbuka untuk menerima wisatawan.

Era sebelum tahun 2002, Indonesia hanya mengandalkan Bali sebagai motor penggerak wisata Indonesia. Bali seakan menjadi destinasi wisata yang wajib dikunjungi oleh setiap wisatawan mancanegara. Namun semenjak tragedi kemanusiaan di Jawa-Bali pada periode tahun 2002-2005, ini menjadi pukulan telak bagi kondisi pariwisata Indonesia. Indonesia tidak bisa mengandalkan hanya dengan orientasi mancanegara saja, tetapi juga harus mulai mengembangkan kepariwisataan dengan lebih luas dan terdiversifikasi secara merata.

Hal itu sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Nirwandar (2005:4) bahwa pembangunan pariwisata di Era Otonomi menjadikan pembangunan pariwisata tidak seimbang dan menimbulkan dampak sebagai berikut :
a. Pembangunan pariwisata yang tidak merata, khususnya di kawasan timur Indonesia, sehingga tingkat pertumbuhan ekonomi kawasan Indonesia timur dari sektor pariwisata masih rendah.
b. Indonesia hanya bertumpu pada satu pintu gerbang utama, yaitu Bali.
c. Lemahnya perencanaan pariwisata di kawasan timur Indonesia dan kurang termanfaatkannya potensi pariwisata di kawasan tersebut secara optimal.
d. Rendahnya fasilitas penunjang pariwisata yang terbangun.
e. Terbatasnya sarana transportasi, termasuk hubungan jalur transportasi yang terbatas.

Selain itu, pengembangan di era otonomi daerah juga membangun citra bahwa daerah harus berlomba-lomba dalam pembangunan dan promosi dalam hal kepariwisataannya. Hal ini terlihat di D.I. Yogyakarta, masing-masing dari daerah berburu untuk melaksanakan kegiatan dan promosi kawasan wisata daerahnya. Dalam diskusi terbuka bersama Dimas Diajeng Yogyakarta dan Dinas Pariwisata Provinsi D.I. Yogyakarta, Kepala Pemasaran Dinas Pariwisata menyatakan bahwa terkadang masih ada ketimpangan kebijakan provinsi dan daerah, hal itu sering mengganggu jalannya kegiatan promosi dan kegiatan.

Hal ini juga diamini oleh Nirwandar (2005: 5). Timbulnya persaingan antar daerah, persaingan pariwisata yang bukan mengarah pada peningkatan komplementaritas dan pengkayaan alternatif berwisata. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti:
a. lemahnya pemahaman tentang pariwisata
b. lemahnya kebijakan pariwisata daerah
c. tidak adanya pedoman dari pemerintah pusat maupun provinsi.
Akibatnya pengembangan pariwisata daerah sejak masa otonomi lebih dilihat secara parsial. Artinya banyak daerah mengembangkan pariwisatanya tanpa melihat, menghubungkan dan bahkan menggabungkan dengan pengembangan daerah tetangganya maupun provinsi / kabupaten / kota terdekat. Bahkan cenderung meningkatkan persaingan antar wilayah, yang pada akhirnya akan berdampak buruk terhadap kualitas produk yang dihasilkan. Padahal pengembangan pariwisata seharusnya lintas provinsi atau lintas kabupaten / kota, bahkan tidak tidak lagi mengenal batas karena kemajuan teknologi informasi.

Pariwisata di Internasional
Pariwisata yang saat ini menjadi daya tarik wisatawan mancanegara adalah wisata yang berbasis pada alam, budaya, dan MICE. Wisata yang menjadi bagian dari tempat untuk rekreasi secara rohani dan jasmani. Selain itu, wisata juga bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan wisata MICE. Ini yang saat ini menjadi tren di dunia internasional.

Hal ini juga menjadi fokus United Nation – World Tourism Organization (UN-WTO) sehingga membuat kode etik yang wajib dipatuhi oleh seluruh negara-negara anggotanya. Berikut ada 10 pasal dalam kode etik tersebut
1. Pariwisata berkontribusi untuk saling memahami dan menghormati antara wisatawan dan masyarakat.
2. Pariwisata digunakan untuk memenuhi kebutuhan individu.
3. Pariwisata digunakan sebagai pembangunan berkelanjutan.
4. Pariwisata diproyeksikan pada pengembangan warisan budaya dan unsur-unsurnya
5. Pariwisata dikembangkan untuk kesejahteraan negara tujuan terutama masyarakat sekitar kawasan wisata.
6. Para pemangku kebijakan wajib melindungi kepariwisataan beserta unsurnya.
7. Setiap pelaku wisata, baik itu wisatawan maupun penggerak wisata wajib diberikan hak yang diperolehnya.
8. Wisatawan dibebaskan untuk melakukan perjalanan wisata dan diberirikan hak untuk mendapatkan informasi lengkap mengenai pariwisata.
9. Pemerintah wajib memberikan hak kepada pelaku industri pariwisata.
10. Setiap anggota negara wajib mentaati peraturan-peraturan di atas.

Inilah yang menjadi proyeksi dari pariwisata internasional. Semua eleman yang bergerak di bidang wisata wajib berkoordinasi dengan pemerintah terkait dengan melibatkan masyarakat di sekita area destinasi wisata. Selain itu, pengembangan budaya menjadi sesuatu yang wajib dikembangkan untuk memperkenalkan kearifan lokal dari daerah tersebut.

Jadi, kita bisa melihat bahwa wisata itu memiliki kompleksibilitas dalam pengembangannya. Dengan adanya pengembangan era otonomi yang semakin membuka kesempatan untuk mengembangkan pariwisata, otonomi juga menjadikan pariwisata semakin terpuruk dalam perkembangannya. Persaingan antar daerah terkadang telah melanggar kode etik pariwisata internasional. Hal ini yang wajib dipenuhi agar wisatawan mancanegara semakin banyak dan menjadi pesaing berat di dunia Internasional.


Referensi
Sapta Nirwandar. 2005. Pembangunan Sektor Pariwisata di Era Otonomi Daerah
UU No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan
Global Code of Ethics for Tourism 2001, UN- World Tourism Organization
Wuryastuti Sunaryo. 2007. Perlu Manajemen Handal untuk Tingkatkan Daya Saing Pariwisata Indonesia

Pengaruh Media terhadap Optimisme Kaum Muda dalam Menghadapi Permasalahan Bangsa

Dewasa ini kita sering mendengar berita di televisi, radio, maupun surat kabar yang membahas banyak sekali hal yang menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara. Baik itu sistem ketatanegaraan, masalah politik, ataupun hukum yang sepertinya tidak pernah berhenti pada titik kulminasi mengenai terselesaikannya masalah-masalah yang dihadapi oleh rezim bangsa ini. Hal itu juga diikuti dengan menurunnya semangat pemuda kita dalam menyelesaikan masalah-masalah bangsa yang sebenarnya menjadi tugas dan bagian dari mereka. Setelah hampir 83 tahun Sumpah Pemuda digulingkan, semangat tentang optimisme pemuda seakan luntur dan melorot. Anies Baswedan dalam opininya di Kompas pada tanggal 27 Oktober 2008 mengatakan :

Belakangan ini diskusi tentang Indonesia sering diwarnai perasaan suram. Dalam berbagai forum, di hotel berbintang hingga di warung kopi, diwarnai keluh kesah. Gelembung semangat yang dulu dikagumi di Asia bahkan dunia, kini seolah kempes. Bangsa ini sedang dilibas pesimisme kolektif. Bahasa bersama adalah bahasa pesimistis. Kondisi ini benar-benar tidak sehat.

Pemuda kita pernah berjaya dan berperan penting dalam menyelesaikan permasalahan bangsa dan memberikan kontribusi sebagai agen perubahan (agent of change). Turunnya rezim Orde Lama, peristiwa Malari, dan turunnya rezim Orde Baru adalah prestasi kaum muda Indonesia pada saat itu. Namun sekarang, semangat itu seakan luntur dan terus merosot dengan banyaknya tantangan permasalahan di negeri ini.

Media sebagai satu-satunya sumber informasi saat ini telah memberikan perngaruh besar terhadap sikap yang dimiliki para pendengar dan pembacanya. Media seharusnya menjadi pemantik untuk kaum pemuda berpikir kritis, namun yang terjadi sebaliknya hal ini telah menbentuk sikap pesimistis dan cenderung apatis terhadap masalah bangsa ini. Hal ini memang terbukti ketika banyaki teman penulis yang cenderung menghindari obrolah yentang masalah-masalah di negeri ini. Erick Hiariej, Ph.D. (dosen Hubungan Internasional) dalam seminar tentang Komunikasi, Kaum Muda, dan Permasalahan Bangsa, mengatakan bahwa mahasiswa sekarang memiliki isu-isu yang lemah mengenai kritisasi terhadap masalah masalah negeri ini. Ini menjadi sumber utama mengapa masalah negeri saat ini cenderung dihadapi pesimis dan apatis oleh pemuda negeri ini.

Proses atomisasi pemuda saat ini telah menjadikan pemuda bersikap apatis dan pesimis. Saat ini pemuda hampir kehilangan jati dirinya, yang seharusnya menjadi makhluk sosial, saat ini pemuda menjadi masyarakat yang cenderung individualistik. Hal ini dikarenakan perubahan sosial yang sangat berbeda dengan yang dulu. Situasi saat ini banyak yang tidak mendukung dengan adanya membentuk kritisasi terhadap suatu permasalahan karena banyaknya perubahan yang ada di kehidupan sosial sekarang. Erick menambahkan, dahulu pemuda sangat fokus terhadap suatu permasalahan dikarenakan situasinya yang tidak mendukung untuk nir-fokus. Hal itu berefek pada banyak hal, salah satunya adalah kritisasi terhadap permasalahan bangsa.

Hal ini yang seharusnya menjadi fokus utama dalam menyelesaikan berbagai aspek persoalan mengapa pemuda saat ini cenderung untuk pesimis dan apatis menghadapi sesuatu. Peran media sebagai pemantik dalam berpikir kritis perlu untuk dikaji ulang. Apa yang menjadi faktor penyebab pemuda mengalami degradasi optimis dan cenderung untuk besikap acuh mengenai masalah negeri ini. Tores Torganda Simamoradebataraja dalam tulisannya di Kompasiana.com pada tanggal 15 September 2011 mengatakan bahwa:

Generasi muda sekarang pada umumnya mengalami sebuah perubahan yang mendasar, yakni adanya pergeseran pola pikir dan cara pandang seseorang dalam melihat suatu pokok permasalahan. Generasi muda saat ini sepertinya mengalami kehilangan harapan akan cita-cita mereka sehingga hanya mengikuti arus perubahan saja tanpa bagaimana memikirkan hal-hal yang ingin dicapai.

Inilah perubahan mendasar pada diri kaum pemuda. Entah dimana letak kesalahan media dalam memberitakan, namun jati diri pemuda saat ini terasa hilang dengan banyaknya masalah yang dihadapi oleh negeri ini. Semangat perjuangan untuk menapak tilas mengenai kehebatan pemuda Indonesia seakan lemah terdegradasi oleh zaman. Namun hal ini tidak boleh berlarut-larut. Pemuda sebagai harapan penerus bangsa harus menjadikan diri mereka sebagai pembentuk perubahan dan iron stock. Pemudalah yang akan memikul tanggung jawab mengenai permasalahan negeri ini. Maka dari itu, sikap optimis dengan semangat menggelora perlu dihidupkan kembali. Membangkitkan pemuda yang penuh gejolak optimis untuk kehidupan Indonesia yang lebih baik lagi.

Referensi
Simamoradebataraja, Tores Torganda. Dalam m.kompasiana.com/post/sosbud/2011/09/15/generasi-muda-yang-percaya-diri-optimis-bertanggung-jawab-berintegritas-dan-memiliki-tekad-sudah-hilangkah/ diunduh pada tanggal 23 Oktober 2011 pukul 19.44WIB
Anies Baswedan. KOMPAS tanggal 27 Oktober 2008

GAME ONLINE : DAMPAK UMUM TERGHADAP KEHIDUPAN SOSIAL REMAJA

Perkembangan permainan anak dari hari ke hari semakin beragam. Seiring berkembanya teknologi, permainan anak pun menjamur dengan terintegrasi denga teknologi itu sendiri. Lainnya, banyak anak dan banyak remaja mulia meninggalkan permainan asli Indonesia. Perkembangan teknologi juga tidak serta merta membuat permainan anak (selanjutnya disebut dengan games) berkembang. Berawal dengan bentuk games dalam video, seperti video-games ataupun plays station, hingga saat ini berkembang internet-games (games online), seiring dengan perkembangan internet yang semakin masif dalam masyarakat.

Menjamurnya pusat-pusat games online kemudian menjadi permasalahan baru terhadap dampak yang terjadi dengan remaja. Ironi kembali terjadi ketika penulis menemukan fakta yang terjadi di lapangan, banyak remaja yang masih berseragam sekolah masuk dalam jasa penyedia layanan games online dan bermain dalam waktu yang lama. Games online yang memang banyak di-design dengan sesi permainan yang panjang membuat pemainnya tahan berlama-lama menikmati permainan. Inilah pemain masuk dalam fase kecanduan. Menurut Van Raij dalam Fahlevi (2011), berpendapat bahwa fase kecanduan games dapat didefinisikan sebagai kehilangan kontrol dalam bermain games yang dapat menimulkan kerugian yang signifikan.

Pada tahap kecanduan ini, pemain akan cenderung anti terhadap sosialnya. Walaupun dalam faktanya games online dapat melakukan online-chating dengan sesama pemain, pemain sendiri merefleksikan dirinya dalam bentuk karakter dalam games dan anonim. Inilah yang menjadi kasus selanjutnya, pemain cenderung untuk bertingkah laku sesuai dengan karakter dari games yang dia mainkan, perkembangan ini dari sisi psikologis
juga akan berpengaruh terhadap kehidupan sosial yang terjadi pada dirinya.

Hal inilah kemudian mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap perkembangan games online mejadi negatif dan cenderung pesimistis. Masyarakat dalam hal ini orang tua akan menempatkan games online bisa berdampak buruk, hingga merusak kehidupan para pemainnya. Ada kekhawatiran orang tua jika permainan komputer games tersebut akan menggiring anak-anak pada perilaku yang menyimpang seperti kekerasan, seks tak terkendali, serta lahirnya perilaku antisosial seperti isolasi dan alienasi (Syafrizal, 2004 : 9). Banyaknya waktu dihabiskan di depan layar monitor, membuat mereka seakan lupa bahwa mereka adalah makhluk yang bersosial. Hal terparah adalah mereka bermain hingga lupa waktu dan dapat mengganggu sekolah dan belajar mereka yang seharusnya menjadi tanggung jawab utama.

Sebagai seorang remaja, umumnya mereka adalah anak yang tergabung dalam kelompok-kelompoknya (peel group), menyukai hal-hal baru, menjalin relasi dengan lawan jenisnya, dan berinteraksi secara intens dengan orang yang menjadi orang kepercayaan. Namun, ketika pemain games online menjadi pecandu, hal ini akan bertolak belakang dengan karakter remaja yang sesungguhnya. Kehidupan antisosial seakan menjadi gerbang utama untuk mereka jalani. Efek yang ditimbulkan juga beragam, selain menjadi antisocial, remaja saat ini cenderung melupakan bentuk permainan asli negerinya. Selain itu, pemain games online juga cenderung konsumtif karena harus mengeluarkan rupiah untuk bermain. Hal ini juga didukung dengan tidak adanya kontrol ketat dan kurangnya informasi dari orang tua.

Oleh karena itu, tingkat kesadaran pemain games online perlu ditingkatkan, bahwa mereka adalah makhluk sosial yang memerlukan interaksi untuk aktualisasi diri. Ini juga memerlukan dukungan kuat dari orang tua untuk selalu mengawasi perkembangan sosial anaknya. Namun yang menjadi pertanyaan, faktor apa yang menyebabkan mereka menjadi pecandu, itu perlu diteliti lebih jauh lagi.

Referensi :
Syafrizal, 2004. Etnografi Computer, Yogyakarta : Grha Guru.
www.kompasiana.com/post/ne-media/2011/07/05-game–online–pandangan–umum–mengenai–Implikasi–sosial–psikologi–dan–ekonomi–yang–dihadapi–pemain–game/ dikutip pada tanggal 14 Oktober 2011 pukul 23.24.

Tuesday, September 27, 2011

GALAU...

Suasana yang menyenangkan siang ini. Pada akhirnya juga, kuliah dasar-dasar penulisan yang sempat minggu lalu kosong karena sang dosen ada keperluan, hari ini terisi juga. Pembawaan santai sang dosen dan cenderung “membebaskan” mahasiswanya membuat mata kuliah ini menyenangkan. Setelah perkenalan yang nyentrik dari Mas Nunung, sang dosen, di akhir pertemuan ini, kita pun diberi tugas. Tugas yang cukup membebaskan pemikiranku serta cenderung untuk berpikir liar kalau kata sang dosen.
Ketika beranjak dari ruangan yang ada di lantai tiga, aku menuruni anak tangga seperti tanpa ada beban. Namun, setibanya aku di lantai dua, pandangan mataku fokus pada satu wajah. Wajah yang beberapa hari ini “menghantui” pikiranku dan seperti biasanya, dia hanya menaikkan alis matanya untuk menyapaku. Bahasa tubuh yang sering kulihat ketika bertemu dengannya di kampus ini.
Bahasa tubuhnya pun sering aku tanyakan kepadanya. Entah apa yang terjadi dengannya, jawaban tentang itu tak sekalipun meluncur darinya. Perilakunya yang berubah sejak kita berdua kembali ke Jogja, menjadi beban yang sepertinya berat dan susah untuk diselesaikan. Sikap dinginnya seolah mematikan sikapku untuk menghadapinya. Apa yang harus aku lakukan?
Pagi, siang, dan malam pesan-pesan meluncur dari telepon genggamku untuknya. Tak sekalipun dibalasnya. Aku seperti stuck dengan sikap dia. Dia seperti bongkahan es di freezer yang tak dapat dilelehkan. Apakah aku harus melakukan pengakuan ketigaku bahwa aku masih menunggunya? Entahlah. Namun, suasana menyenangkan itu kembali berkabut dan hingga tulisan ini terketik kabut itu tak juga menghilang.

Perjuangan ini Teruntuk Ibuku Tercinta

Saya berasal dari keluarga sederhana. Pendidikan seadanya sehingga mempengaruhi pola hidup yang dijalani oleh orang tua saya dulu. Namun ketekunan itu memang selalu menjadi bahan modal untuk kita maju. Maju melecut menjadi seseorang yang berprinsip, memiliki mimpi, pantang mundur, dan selalu semangat. Itulah yang dikejar orang tua saya hingga saat ini.
Berbekal pengetahuan dan skill usaha yang kurang mumpuni menurut saya, tapi saya yakin ayah saya adalah orang hebat. Orang yang selalu berjuang dlm segala mimpi dan asanya, semua itu hanya dan teruntuk hanya keluarganya. Modal kerja keras ada pada dirinya dan itu yang membuat saya semangat hingga saat ini. Namun, umur tiada orang pernah tahu. Allah terlalu sayang hingga memanggilnya dalam usia yang bisa dibilang mulai menginjak matang.
Apakah itu menjadikan saya dan ibu berputus asa? Tidak! Itu jawaban kami. Sejak tahun 2000 ibu adalah yang menghidupi anak-anaknya seorang diri. Berjuang bangun pagi untuk berjualan. Pesannya tiap pagi hanyalah, “yang penting kamu sekolah tinggi, dapat pekerjaan yang lebih baik dari ibu dan ayah.” Ya, hanya itu pesannya. Semenjak SMP saya mencoba untuk memandirikan diri saya secara lebih dini. Mematangkan pikiran untuk menjadikan saya dewasa dan ingin segera membantu ibu.
Syukur, tiap detik kita sekeluarga masih diberikan anugrah yang tiada terkira. Salah satu dari keluarga kami ada yang sukses dan bersedia menampung saya dan membiayai kehidupan dan pendidikan saya hingga sarjana. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Saya berangkat ke Jogja untuk melanjutkan pendidikan SMK di SMK Indonesia Yogyakarta, sampai di tahun 2010 saya diberikan gelar sebagai asisten apoteker. Namun, mengapa saya bisa “nyasar” ke FISIPOL UGM? Banyak cerita yang ada dibalik kisah itu.
Cita-cita saya sebenarnya adalah menjadi seorang dokter. Walau saya meyakini, secara finansial keluarga tidak mampu, serta saya harus sadar diri bahwa pendidikan saya dibiayai orang lain. Di pertengahan sekolah di SMK saya mulai menemukan titik kebosanan itu, titik dimana saya lelah untuk belajar menghafalkan ilmu alam seperti reaksi kimia hingga kimia organik.
Suatu ketika saya menemukan wadah, debat berbahasa inggris. Berawal dari situ saya menemukan passion untuk belajar ilmu sosial. Hingga saya tertarik untuk membaca koran, membaca buku tentang politik, sosial, psikologi dan masih banyak lagi. Tidak hanya itu, dibeberapa event sekolah saya saring diminta untuk menjadi MC. Belajar menulis dengan bergabung menjadi wartawan KACA Kedaulatan Rakyat, hingga terakhir mencoba untuk belajar menjadi Radio Announcer. Dan itu semua saya menyenanginya, menyukainya hingga bahkan membuat saya jatuh cinta. Di situlah awal mengapa pilihan saya jatuh pada Ilmu Komunikasi karena itu sesuai dengan bakat dan minat saya.
Ibu pernah berpesan, “Kesuksesanmu yang menentukan kamu sendiri, Ibu hanya bisa mencari dan mewarisi ilmu yang kamu dapat disetiap jenjang pendidikanmu.” Itu saya pegang terus hingga saat ini. Kebanggaan itu semakin jadi ketika saya diterima di UGM. Kampus yang selama ini buat ibu adalah mustahil untuk anaknya bersekolah di sana. Dan saya membuktikannya. Insyallah, perjuangan saya adalah perjuangan disetiap doa yang dilantunkan ibu. Perjuangan dari setiap peluh saudara yang bersedia menyekolahkan saya.
Keinginan saya hanyalah, saya memiliki pekerjaan yang layak dan pantas untuk meneruskan perjuangan lelah ibu. Menyekolahkan adik yang masih kecil. Dan membuat keluarga saya bahagia. Keinginan yang bagi banyak orang mungkin sederhana, namun bagi saya itu memerlukan usaha keras dan perjuangan. Karena saya juga ingin merasakan perjuangan orang tua saya dulu, agar memiliki cerita indah di depan nanti. Semoga.

Aku Membangun Indonesia

Melihat kondisi bangsa kita saat ini seperti melihat sebuah negara yang terlihat bagus di luar namun seperti pepesan kosong di dalamnya. Gaung demokrasi yang dikibarkan hingga kini tidak memberikan kontribusi nyata untuk kemajuan Indonesia. Bahkah, cenderung menurun, seperti bangsa yang tidak memiliki integritas dan kekayannya bisa dirampas oleh pihak lain. Apakah sebagai generasi penerusnya kita rela?
Masuk dalam fakultas ilmu sosial dan politik sebernarnya adalah sebuah jalan menuju perbaikan Indonesia di masa yang akan datang. FISIPOL bisa sebagai wadah yang dapat menempa kita untuk lebih bersikap kritis terhadap suatu permasalahan bangsa serta juga memberikan pembelajaran etika berpolitik yang nyata.
Demokrasi yang dibangun di negara kita adalah demokrasi politik. Duduk di dalamnya ada wakil rakyat yang selalu memonitoring kinerja pemerintahan. Nah, ini berarti jalan yang dapat kita tempuh untuk membangun bangsa ini ada dua cara, dengan bergabung menjadi bagian dari pemerintah sebagai pelaksana kebijakan atau berpolitik sebagai wakil rakyat yang selalu merumuskan bersama aturan main dalam pemerintahan.
Kedua cara ini memang terasa tidak mudah. Keduanya sama-sama susah. Masih ingatkah kita bahwa negara kita dibangun atas dasar kemandirian? Nah dari situ sebenarnya saya berkeinginan untuk berada diluar jalur politik maupun pemerintah. Pemerintah biarlah menjalankan aturan yang sudah ditetapkan, kita yang diluar adalah dengan cara membantu pemerintah untuk mempersiapkan generasi penerus yang memiliki integritas dan kemampuan bersosialisasi yang mumpuni.
Saya ingin mengajarkan ilmu yang saya dapatkan kepada generasi muda. Generasi yang masih segar untuk melakukan terobosan baru sesuai dengan idenya. Memberikan kontribusi melalui pendidikan juga merupakan bagian dari kita mempersiapkan para generasi yang akan duduk di pemerintahan maupun wakil rakyat.
Selain itu saya juga ingin menjadi orang yang ada untuk memberikan sumbangan pemikiran-pemikiran yang menurut saya baik. Bukan hanya kritikan yang tidak solutif terhadap suatu permasalahan. Suatu saat saya ingin duduk bersama membangun bangsa ini dengan penuh optimisme melalui proses pemberian pemikiran-pemikiran.
Tidak hanya itu, membangun negeri tidaklah harus kita terlibat langsung dalam urusan ketatanegaraan. Biarlah itu menjadi bagiab tugas bagi para pemangku jabatan negri ini. Tugas kita adalah memberikan nyala api optimisme hidup kepada setiap orang. Sekali orang itu optimis untuk maju, banyak diantara kita yang akan mendorong pemerintah bergerak optimis dengan kita. Ini adalah gerakan kesinambungan. Ketika optimisme bangsa menyala, semua komponen akan bekerja sesuai dengan bidangnya dan itu bisa mempersatukan bangsa ini menjadi bangsa yang lebih bermartabat.
Saya melalui jebolan dari fakultas ilmu sosial dan politik wajib peka terhadap lingkungan. Bagaimana lingkungan itulah yang akan membentuk jati diri suatu wilayah hingga bangsa ini. Kepekaan kita wajib teruji setiap waktu, dan kita selalu dihadapkan pada permasalahan kompleks bangsa yang tiada pernah usai. Kepekaan itu akan membantu kita untuk bisa menganalisis permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat. Sehingga melaui itu kita bisa tahu dimana letak potensi yang akan mewujudkan optimisme.
Maka pada saatnya nanti, melalui fisipol saya ingin memberikan sumbangsih pemikiran saya kepada negara dengan selalu membarakan jiwa optimis dan peka terhadap permasalahan lingkungan. Karena dengan keduanya itulah yang akan membawa bangsa kita menjadi bangsa yang besar asalkan ditangani oleh orang yang keras dan memiliki integritas tinggi dalam setiap kepemimpinannya.

Nb: tulisan ini dipenuhi untuk tugas PPSMB Sosphomorphosa 2011 FISIPOL UGM

Sunday, February 27, 2011

MAKE UP ARTIST? NAPA NGGAK????

Golong gilig, sebuah filosofi orang Jogja dalam menjalani sebuah kepercayaan Garis khayal lurus yang menghubungkan pantai selatan, panggung krapyak, sasono hinggil dwi abad, Kraton Jogja, TUGU, dan Merapi. Sebuah filosofi penyeimbang kehidupan manusia di dunia. Sulit dipahami memang, tapi itulah kepercayaan.

Hari ulang tahun Kota Jogjakarta, dan sepertinya memang akan seperti perayaan sebelumnya, karnaval malam sebgai icon akan menjadikan acara tersebut berwarna. Sepulang dari mudik lebaran, aku sudah mengumpulkan segenggam informasi mengenai volunteer untuk puncak perayaan Jogja Java Carnival. Setelah melengkapi berkas, aku mendaftarkan diri bareng sama Anis. Tes tertulis dan FGD pun bareng. Tanpa memerdulikan aku lolos atau tidak. Ya paling tidak aku berpartisipasilah.

Tahap demi tahap aku jalani, hingga akhirnya lolos sebagai volunteer di acara tersebut. tugasku adalah sebagai make up artist and costum. Bayangin aja, aku langsung syok dengan tugas itu, namun ya kembali lagi, itu TANTANGAN!!! Aku pasti bisa, itulah keyakinanku. Apa yang aku bayangkan dalam JJC ternyata memang rumit pengerjaannya. Kostum-kostum yang dibuatpun sangat ribet, apalagi aku saat itu mengurusi yang namanya vehicle Naga Jawa. Kostumnya aneh-aneh, sampek aku aja berfikir kok bisa ya orang bikin kayak gini??? Setiap detil di dalamnya pun wajib di ikuti. Bagaimana memasang baju, bagaimana kalo topinya terlalu besar, bagaimana kalo terompetnya ga hidup, mana yang menjadi pasangan baju, topi, aksesoris dan senjata serta banyak lagi deh.

Tugas ketika siang itu adalah aku mendandani para pria bertubuh tegap dengan kain putih. Badannya dilumurin sama gltter emas biar berkilau bila terkena cahaya. Cukup kewalahan memang apalagi banyak banget, 21 orang hanya dikerjakan oleh 4 orang. Belum lagi dengan para orang dengan baju karakternya. Setiap detilpun wajib diliat. Sepatunya, make upnya, glitternya cukup atau tidak serta masih banyak lagi.
Hingga acara tetek bengek itu selesai dan acara carnaval bisa berjalan dengan lancar. Pulang sudah cukup larut, jam 01.00 dini hati aku sampai dirumah. Badan dan pegal dan aku langsung tidur.

Namun kenangan itu membuat aku berkesan. Mengapa??? Ternyata aku masih bisa berkontibrusi untuk kota tercintaku, Jogja. Ini memang belum seberapa, aku ingin membuat kota ini semakin bangga denganku nantinya. Selamat Ulang tahun Jogja....Love you.....

ORGANISASI, Menyenangkan Tuh....

Mengisi kegiatan dengan sebuah organisasi adalah kesukaanku. Apalagi hal-hal baru, itu tantangan menurutku. Bersama Persudaraan Alumni Kaca dan Reporter Remaja SKH Kedaulatan Rakyat, kita membuat gebrakan event kedua kita. Melalui gerakan cinta museum 2010 yang diusung Kemenbudpar acara itu terbilang cukup sukses. Kepanitiaan ini mempercayakan aku untuk menjadi seorang koordinator HUMAS, sebuah tugas yang menurutku bukan tugas yang ringan.

Aku banyak belajar di acara tersebut. bagaimana menggaet sebuah perusahaan untuk ikut mensupport kegiatan kita, berhubungan dengan banyak orang, dan tentunya akan banyak menyelami karakter banyak manusia dalam sebuah organisasi. Mudah??? Tentu tidak, harus memiliki skill khusus yang sangat penting untuk diperhatikan. Wajib belajar dan disinilah aku belajar.

Menjadi seorang public relation ternyata tak semudah yang aku bayangkan. Dari beberapa proposal yang kami ajukan ke beberapa perusahaan bonafit yang ada di Jogja hampir semua menolak dengan berbagai alasan. Kita hanya berfikir positif, mungkin saja CSR perusahaan itu sedang dalam menjalankan sebuah perusahaan, oleh karenanya sudah tidak ada anggaran yang tersisa buat kita.

Berurusan dengan yang namanya perusahaan swasta ternyata hanya tantangan kecil ketika kita masuk dalam lingkup pemerintahan. Acara yang kita usung memang sangat mendukung program tahun kunjung museum 2010 dari KEMENBUDPAR. Untuk itulah kita berani bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Prop. DIY. Berurusan dengan birokrasi ternyata memang ribet. Lempar sana-lempar sini, itu yang terjadi. Menyerah tentu tidak, karena kita mengincar dana yang dijanjikan oleh Kepala Dinas, walau ujung-ujugnya ya tidak turun. Entah deh apa yang ada dipikiran para birokrat itu. Sini membantu program pemerintah kok kayak malah disepelekan.

Urusan itu memang ribet, bikin aku dan Anis yang saat itu menjadi partnerku menjadi stress. Tapi itulah sensasinya. Organisasi memang bisa menjadikan kita sebuah keluarga. Keluarga kecil yang akan selalu bersatu. Walau beda pandangan dan prinsip kita kan satu, menjadi sebuah keluarga. Makasi ya PADACARMA.....aku janji akan aktif lagi...kan hari ini sudah diserahi tugas.... 

GAGAL….HENTI….TIDAK!!!!!

Semenjak aku dinyatakan tidak diterima dalam proses seleksi UM UGM, aku mulai bangkit menata diri kembali. Dan saai itu aku langsung mendaftarkan diriku untuk mengikuti bimbingan belajar SNMPTN dan mengambil program IPS. Aku cukup berani mengambil sebuah keputusan karena aku yakin dalam mengerjakan soal-soal IPA aku akan sangat kesulitan karena aku tidak memahami dunia IPA SMA. Itu yang membuat aku yakin.

Hari-hari disibukkan dengan seabrek kegitan bimbel dan acara pelaksanaan wisuda dan malam perpisahan. Setiap hari aku bolak-balik rumah, sekolah, bimbel, sekolah, rumah. Namun itu hampir tak membuat aku capek. Ya itulah aku, setiap ada kemauan pasti aku meyakini. Itulah diriku.

Hingga saat wisuda datang, ibu juga ke Jogja lagi. Aku sangat senang. Didampingi ibu saat wisuda adalah impan terbesar. Ibu saat itu berpesan ”satu langkah telah selesai, langkah selanjutnya sudah menanti, itu lebih berat. Namun ibu yakin, kamu bisa. Semangat yo le.....”. itulah pesan ibu yang selalu menjadi suntikan semangat untukku.

Hingga tiba ujian SNMPTN, aku semnagta mengerjakan dan aku yakin aku mampu. Nmaun ujungnya sama saja. Aku GAGAL kembali, namun tak seperti dulu aku menangis, saat ini aku lebih tenang. Aku hanya meyakinkan ibuku masih ada tahun depan. Aku yakin itu.
Itulah yang menjadikan aku semangat hingga saat ini. Hidup ini kan untuk belajar mengapa harus dibikin pusing??? Insyallah aku akan bisa tahun depan. Dan untuk mengisi waktuku, aku mengikuti bimbingan belajar kembali. Selain itu aku selalu memiliki sebuah keyakinan bahwa aku akan berguna untuk orang-orang di sekitarku.

Merencanakan...ya...hanya RENCANA

Beberapa lama aku vakum dari blog ini. Sempat sih, berpikir kapan aku akan kembali mengurus blog yang sebenarnya adalah tempat untuk aku berbagi. Semenjak aku fokus untuk menyelesaikan segala aktivitas Ujian Nasionalku aku lanjut untuk menghajar soal-soal Ujian Tulis Masuk UGM. Sepenuh hati aku percaya diri mengambil IPC, san sejujurna selama sekolah di SMF saya tidak pernah mendapatkan materi Pendidikan Sosial yang banyak.

Keteguhanku hanya ingin masuk UGM. Aku merasa iri dengan saudara-saudara yang hampir semuanya lulusan universitas kenamaan Indonesia itu. Hingga saat pengumuman hasil UM UGM pun aku tetap bergeming yakin bahwa aku akan diterima. Proses menunggu adalah sebuah hal yang sebenarnya paling aku benci, namun aku tetap bersabar menunggu hasil yang aku yakini bahwa aku lolos.

Malam itu, adalah malam menentukan, aku lupa tanggalnya. Lapar membuatku ingin mencari makan diluar sambil merilekskan diri dan memberi motivasi dalam diriu bahwa aku diterima. Namun, aku ingin mencoba untuk meyakinkan sebuah hasil. Berbekal HP baru Sony Ericcson J105i yang kubeli, ak mengetikkan nomor pendaftaran dan mengirimkan sebuah SMS yang menjadi pusat informasi UM UGM. Send! Hatiku semakin rancu dan deg-degan tak menentu. Tak perlu menunggu lama balasan itu datang. Apa yang ada di inbox lansung saja kubuka. Innalillahi......”mbak wi, aku gak lolos.....” suara parauku memecah hening di mobil. Akulangsung menangis sambil megetikkan sms ke ibu untuk memberikan informasi itu.

Tak lama ibi menelepon aku, ”Sabar ya dek, jangan nangis. Masih ada jalan kok, adek masih bisa usaha buat SNMPTN ya....” kata ibu penuh dengan wibawa. Hatiku seburat pilu, rasa tangis ini tak tertahankan lagi. Tumpah seketika, dan nafsu makanku hilang.

Aku merasa menjadi orang yang sangat tidak beruntung. Semenjak SD hingga aku bersekolah di SMF rasanya sangat mudah untuk aku mendapatkan sekolah favorit yang menjadi incaranku. Aku merasa sanat tertekan sejak itu. Dua hari aku menangis menjadikan ibuku khawatir luar biasa. Apalagi hari menjelang wisuda sumpah asisten apotekerku. Ibu menyempatkan ke Jogja walau cuman sebentar, kedatangannya hanya untuk menguatkan ku agar aku bisa tegar dan lebih fokus untuk menjalani persiapan ujian SNMPTN. Sampai detik ini menulispun aku masih meneteskan air mata bila mengingat sayangnya ibu sama aku. Makasi ya bu...

Dari sinilah aku banyak belajar. Belajar untuk mengatur sesuatu. Kalo kata Pak Haryo sie Plan A dan Plan B. Hal inilah yang tidak aku lakukan dalam hal ini. Aku terlalu memburu dengan nafsu dan keyakinanku bahwa aku bisa. Padahal yang mengatur itu yang diatas. Inilah kesalahanku. Aku memahami dan tidak akan mengulanginya untuk tahun ini. Tahun yang aku siap maju perang dengan berbagai perlengkapan. Insyallah. Semoga doa-doa ibu yang selalu terselip namaku menjadikan Allah meridhoi setiap langkahku. AMIEN. ILMU KOMUNIKASI UGM YES!!!!

Friday, February 25, 2011

HAI...APA KABAR?????

Hampir setahun gue nggak nulis di blog ini. Oh my God....hampir aja gue juga kelupaan dengan password yg wajib gue ketik sebelum gue masuk ke laman ini. But, dengan sedikit mental baja aku coba dan ternyata bener. :p

Dalam setahun banyak hal yang gue lakukan. Setelah gue akhirnya lulus dari sekolah yang membelenggu gue selama 3 tahun, "YES" itu kata pertama yang terucap. Namun rentetan kesenangan itu tak membuatku senang dikarenakan satu hal, sampek detik ini gue nulis, gue belum bisa mendapatkan impian buat masuk ke UNIVERSITAS GADJAH MADA a.k.a. universitas keluarga besar selain IPB, UI, dan Unibraw. Kecil hati sih dulu awal-awal, sekarang mah semangat aja, hidup kan emang kayak gini, ada susah senangnya. Usaha itu yang penting.

Hal itulah yang juga menuntunku untuk terus giat belajar menggapai mimpi di 31 Mei dan 1 Juni nanti, semoga berhasil, doakan ya kawan. :)
Perjalanan selama setahun juga banyak memberikan warna dalam hidup. Belajar untuk menjadi orang yang memiliki mimpi dan ambisi untuk mengejar sebuah visi. Belajar juga mengubah paradigma gue. Kata Belajar bermakna luas, dan saya belajar apa saja, nanti saya ceritakan di banyak belajar yang saya tekuni ya.

namun sesungguhnya masih banyak tulisan yang ingin saya bagi saat ini, banyak sekali mungkin sampai ngelembur buat gue nulis dan membagikan ke kalian. Doakan sesegera mungkin buat membagi kisah-kisah ga jelas dari saya. Makhluk yang kata mama dibilang anak pinter, tapi masa iya sie???? ;p

Tunggu ya kawan.....see ya....