Tuesday, November 1, 2011

Great October, Great DENDI

Bulan sudah berganti ke November, nggak terasa ya. Setelah kemaren rasanya baru menghirup Oktober dengan segala persiapan kerennya. Hahaha....

Oktober menurut saya adalah bulan paling indah selama kuliah. Banyak sekali hal-hal menarik yang aku dapatkan di bulan lalu. Sejak dengan adanya pembukaan Kompas Muda, Gelanggang Expo, dan Great Camping yang sangat melelahkan namun fun banget. Semua itu aku ikuti dan banyak hal yang cukup menegangkan di dalamnya. Sesuatu lah pokoknya.

Kompas Muda, daftar menjelang detik-detik terakhir. Nyari-nyari soft file CV, eh kena virus. Dengan terpaksa bikin lagi deh, di warnet sore-sore balik kuliah. Diburu dengan waktu. Aku sih nggak begitu berharap dengan hasilnya nanti. daftar aja deh yang penting. Hasil belakangan aja. Kalo diterima juga bersyukur, berarti ini kali kedua saya bergabung dengan media cetak setelah Kedaulatan Rakyat. By the way, bukannya Kompas Muda adalah yang bakal jadi panitia Ultah Kompas ntar Januari ya. Wkwkwkwk, ya sudahlah, paling nggak memberikan sebuah koneksi aja...

Gelanggang Expo. Aku daftar di dua UKM lho. Paduan Suara Mahasiswa dan Bulaksumur Pos. Keduanya butuh sesuatu ekstra buat masuk. Gimana nggak, kita wajib mengikuti serangkaian seleksi yang cukup menguras waktu dan tenaga. Ecileh, sok deh aku. Wkwkwkwk. Aku dapet jatah seleksi PSM jam 22.30 lho, disuruh nyanyi gitu dilanjut dengan baca notasi yang aku banyak lupa dengan pengetahuan seni musik ku. Maklum lah, di SMA nggak dapet ilmu tersebut. Namun, alhamdulillah banget ya, Aku Diterima Jadi Anggota PSM #41 lho.... Rasanya menakjubkan. Oh iya, seseorang yang pernah menjadi obyek tulisanku yang berjudul GALAU juga diterima. Seneng deh, bisa satu organisasi. Inget, Aku masih sayang sama Kamu.

Selain itu, aku juga mendaftar di Bulaksumur Pos. Seleksinya sesuatu banget, dimana adaa FGD yang itu membuat aku sangat percaya diri ketika ngomongin tentang politik. Sampek Annis ngangguk-ngangguk dan menyetopku buat berhenti ngomong. Wkwkwkwkwk... Hasil belum keluar sih, ditunggu aja deh. ;)

Nah ini dia kegiatan yang menguras waktu, tenaga, otak, dan kantong. GREAT CAMPING. Sebagai ketua kelompok aku wajib cekatan dan pandai mengatur yang namanya anggotaku. Tugas pertama sangat beres dilaksanakan. Tugas kedua, video men!!! Ya udah deh akhirnya kita shooting di tempat Khansa, dan saya berperan jadi apa??? Lihat saja nanti. :)

Tak hanya itu, perform angkatan dengan tokoh utama MMXII, maskot kartun Kompas, aku jadi banci gitu men!!!! Fuck buat Heru yang bikin skenarionya. Tapi mau gimana lagi, aku wajib dan harus mematuhi role yang udah dibuat. Udah jadi dipotong lagi sama kakak angkatan pas nampil.

Great Camping juga banyak memberikan pengalaman berharga, dari yang males olahraga akhirnya dipaksa jalan, senam, yang nggak pernah masak dipaksa masak, dibentak-bentak dan aku banyak kena, lagi-lagi Annis sebagai tokoh utama ditambah dengan Ghora. Disuruh nari ala Nidji, Ayu Ting-ting, Dangdut koplo, and many more. Yang paling lucu adalah bentakan dari kakak angkatan ke temen-temen aku yang lain yang dianggap aneh. Wkwkwkwkwk...

Yah itulah Octoberku, paling nggak ada sesuatu yang aku hasilkan di bulan lalu. Belajar menapaki kehidupan supaya jadi Dendi yang lebih baik lagi. 2011 kurang 2 bulan lagi, itu artinya tahun 2012 umurku sudah 20 tahun. Semoga dua bulan terakhir bisa aku manfaatkan dengan baik untuk kehidupan yang lebih OK juga. Semangat DENDI....

Pengembangan Pariwisata di Era Otonomi Daerah Menuju Persaingan Global

Desentralisasi menjadi sebuah era baru pembangunan Indonesia. Sistem ini meletakkan pondasi pembangunan dengan memberikan otoritas kepada pemerintah daerah untuk mengembangkan daerah masing-masing. Salah satu yang menjadi unsur pembangunan otonomi daerah adalah sektor pariwisata. Memang masih ada bagian dari pariwisata yang menjadi kewajiban pemerintah pusat untuk pengelolaan, namun pembangunan dari beberapa destinasi wisata sudah menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.

Seiring dengan perkembangan sistem ekonomi dari sentralisasi ke sistem desentralisasi, pariwisata memiliki dampak nyata dari adanya perubahan sistem ini. Hal ini terlihat lebih berkembangnya pembangunan sarana dan prasarana di kawasan barat Indonesia, dibandingkan dengan yang terdapat di kawasan timur Indonesia. Hal ini juga terlihat dari pembangunan di sektor pariwisata, dimana kawasan Jawa-Bali menjadi kawasan konsentrasi utama pembangunan kepariwisataan. (Nirwandar, 2005:4)

Proyeksi menuju pasar global sudah didengungkan oleh pemerintah dan sektor penggerak wisata. Wisata bertaraf internasional menjadi proyeksi pembangunan selanjutnya untuk lebih menarik wisatawan mancanegara. Saat ini bila dilihat dari kecenderungan pasar global, destinasi wisata yang menjadi daya tarik wisatawan mancanegara adalah wisata alam dan budaya. Bila dilihat dari proyeksi ini, berarti kawasan timur Indonesia menjadi surga bagi wisatawan dengan pantai yang indah, sumberdaya laut dengan keindahan terumbu karangnya, serta masih perawannya kawasan hutan. Ini adalah sumberdaya yang wajib dikembangkan dengan berbasis lingkungan (ecotourism).

Salah satu penggerak dari pariwisata ini adalah Kabupaten Sleman. Sesuai dengan kewenangan otonomi daerah, Kabupaten Sleman memulai pembangunan pariwisata dengan berbasis pada mengeksplorasi alam tanpa merusak. Pembangunan ini terlihat dengan banyaknya desa-desa wisata yang dikembangkan, selain untuk eksplorasi alam sekitar, wisata jenis ini juga bisa digunakan untuk mengenalan kearifan lokal sebagai wisata budaya.

Selain wisata dengan basis alam dan budaya, pengembangan wisata internasional saat ini juga mengembangkan wisata MICE, meeting, incentive, convention, dan exhibition. Pengembangan ini dilakukan agar pariwisata dinikmati bukan hanya sekedar sebagai refreshing, namun lebih dari itu. Dari tipologi wisata ini, pembangunan berkelanjutan berbasis masyarakat juga akan terpenuhi. Sebagaimana salah satu tujuan dalam UU No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan pada pasal 4 bahwa kepariwisataan bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Melalui program wisata MICE inilah pertumbuhan ekonomi dari berbagai sektor akan tumbuh.

Kelemahan Pariwisata Indonesia
Akhir-akhir ini banyak sekali dipromosikan area-area baru wisata yang cukup indah dan menarik di beberapa kawasan timur Indonesia, sebut saya seperti Wakatobi dan Raja Ampat. Dua tempat ini seakan menjadi surga dunianya pada wisatawan mancanegara dan domestik. Namun sayang, sarana dan prasarana yang ada untuk akses menuju dua tempat itu agak sulit. Namun semenjak adanya Sail Wakatobi, wilayah ini semakin terbuka untuk menerima wisatawan.

Era sebelum tahun 2002, Indonesia hanya mengandalkan Bali sebagai motor penggerak wisata Indonesia. Bali seakan menjadi destinasi wisata yang wajib dikunjungi oleh setiap wisatawan mancanegara. Namun semenjak tragedi kemanusiaan di Jawa-Bali pada periode tahun 2002-2005, ini menjadi pukulan telak bagi kondisi pariwisata Indonesia. Indonesia tidak bisa mengandalkan hanya dengan orientasi mancanegara saja, tetapi juga harus mulai mengembangkan kepariwisataan dengan lebih luas dan terdiversifikasi secara merata.

Hal itu sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Nirwandar (2005:4) bahwa pembangunan pariwisata di Era Otonomi menjadikan pembangunan pariwisata tidak seimbang dan menimbulkan dampak sebagai berikut :
a. Pembangunan pariwisata yang tidak merata, khususnya di kawasan timur Indonesia, sehingga tingkat pertumbuhan ekonomi kawasan Indonesia timur dari sektor pariwisata masih rendah.
b. Indonesia hanya bertumpu pada satu pintu gerbang utama, yaitu Bali.
c. Lemahnya perencanaan pariwisata di kawasan timur Indonesia dan kurang termanfaatkannya potensi pariwisata di kawasan tersebut secara optimal.
d. Rendahnya fasilitas penunjang pariwisata yang terbangun.
e. Terbatasnya sarana transportasi, termasuk hubungan jalur transportasi yang terbatas.

Selain itu, pengembangan di era otonomi daerah juga membangun citra bahwa daerah harus berlomba-lomba dalam pembangunan dan promosi dalam hal kepariwisataannya. Hal ini terlihat di D.I. Yogyakarta, masing-masing dari daerah berburu untuk melaksanakan kegiatan dan promosi kawasan wisata daerahnya. Dalam diskusi terbuka bersama Dimas Diajeng Yogyakarta dan Dinas Pariwisata Provinsi D.I. Yogyakarta, Kepala Pemasaran Dinas Pariwisata menyatakan bahwa terkadang masih ada ketimpangan kebijakan provinsi dan daerah, hal itu sering mengganggu jalannya kegiatan promosi dan kegiatan.

Hal ini juga diamini oleh Nirwandar (2005: 5). Timbulnya persaingan antar daerah, persaingan pariwisata yang bukan mengarah pada peningkatan komplementaritas dan pengkayaan alternatif berwisata. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti:
a. lemahnya pemahaman tentang pariwisata
b. lemahnya kebijakan pariwisata daerah
c. tidak adanya pedoman dari pemerintah pusat maupun provinsi.
Akibatnya pengembangan pariwisata daerah sejak masa otonomi lebih dilihat secara parsial. Artinya banyak daerah mengembangkan pariwisatanya tanpa melihat, menghubungkan dan bahkan menggabungkan dengan pengembangan daerah tetangganya maupun provinsi / kabupaten / kota terdekat. Bahkan cenderung meningkatkan persaingan antar wilayah, yang pada akhirnya akan berdampak buruk terhadap kualitas produk yang dihasilkan. Padahal pengembangan pariwisata seharusnya lintas provinsi atau lintas kabupaten / kota, bahkan tidak tidak lagi mengenal batas karena kemajuan teknologi informasi.

Pariwisata di Internasional
Pariwisata yang saat ini menjadi daya tarik wisatawan mancanegara adalah wisata yang berbasis pada alam, budaya, dan MICE. Wisata yang menjadi bagian dari tempat untuk rekreasi secara rohani dan jasmani. Selain itu, wisata juga bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan wisata MICE. Ini yang saat ini menjadi tren di dunia internasional.

Hal ini juga menjadi fokus United Nation – World Tourism Organization (UN-WTO) sehingga membuat kode etik yang wajib dipatuhi oleh seluruh negara-negara anggotanya. Berikut ada 10 pasal dalam kode etik tersebut
1. Pariwisata berkontribusi untuk saling memahami dan menghormati antara wisatawan dan masyarakat.
2. Pariwisata digunakan untuk memenuhi kebutuhan individu.
3. Pariwisata digunakan sebagai pembangunan berkelanjutan.
4. Pariwisata diproyeksikan pada pengembangan warisan budaya dan unsur-unsurnya
5. Pariwisata dikembangkan untuk kesejahteraan negara tujuan terutama masyarakat sekitar kawasan wisata.
6. Para pemangku kebijakan wajib melindungi kepariwisataan beserta unsurnya.
7. Setiap pelaku wisata, baik itu wisatawan maupun penggerak wisata wajib diberikan hak yang diperolehnya.
8. Wisatawan dibebaskan untuk melakukan perjalanan wisata dan diberirikan hak untuk mendapatkan informasi lengkap mengenai pariwisata.
9. Pemerintah wajib memberikan hak kepada pelaku industri pariwisata.
10. Setiap anggota negara wajib mentaati peraturan-peraturan di atas.

Inilah yang menjadi proyeksi dari pariwisata internasional. Semua eleman yang bergerak di bidang wisata wajib berkoordinasi dengan pemerintah terkait dengan melibatkan masyarakat di sekita area destinasi wisata. Selain itu, pengembangan budaya menjadi sesuatu yang wajib dikembangkan untuk memperkenalkan kearifan lokal dari daerah tersebut.

Jadi, kita bisa melihat bahwa wisata itu memiliki kompleksibilitas dalam pengembangannya. Dengan adanya pengembangan era otonomi yang semakin membuka kesempatan untuk mengembangkan pariwisata, otonomi juga menjadikan pariwisata semakin terpuruk dalam perkembangannya. Persaingan antar daerah terkadang telah melanggar kode etik pariwisata internasional. Hal ini yang wajib dipenuhi agar wisatawan mancanegara semakin banyak dan menjadi pesaing berat di dunia Internasional.


Referensi
Sapta Nirwandar. 2005. Pembangunan Sektor Pariwisata di Era Otonomi Daerah
UU No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan
Global Code of Ethics for Tourism 2001, UN- World Tourism Organization
Wuryastuti Sunaryo. 2007. Perlu Manajemen Handal untuk Tingkatkan Daya Saing Pariwisata Indonesia

Pengaruh Media terhadap Optimisme Kaum Muda dalam Menghadapi Permasalahan Bangsa

Dewasa ini kita sering mendengar berita di televisi, radio, maupun surat kabar yang membahas banyak sekali hal yang menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara. Baik itu sistem ketatanegaraan, masalah politik, ataupun hukum yang sepertinya tidak pernah berhenti pada titik kulminasi mengenai terselesaikannya masalah-masalah yang dihadapi oleh rezim bangsa ini. Hal itu juga diikuti dengan menurunnya semangat pemuda kita dalam menyelesaikan masalah-masalah bangsa yang sebenarnya menjadi tugas dan bagian dari mereka. Setelah hampir 83 tahun Sumpah Pemuda digulingkan, semangat tentang optimisme pemuda seakan luntur dan melorot. Anies Baswedan dalam opininya di Kompas pada tanggal 27 Oktober 2008 mengatakan :

Belakangan ini diskusi tentang Indonesia sering diwarnai perasaan suram. Dalam berbagai forum, di hotel berbintang hingga di warung kopi, diwarnai keluh kesah. Gelembung semangat yang dulu dikagumi di Asia bahkan dunia, kini seolah kempes. Bangsa ini sedang dilibas pesimisme kolektif. Bahasa bersama adalah bahasa pesimistis. Kondisi ini benar-benar tidak sehat.

Pemuda kita pernah berjaya dan berperan penting dalam menyelesaikan permasalahan bangsa dan memberikan kontribusi sebagai agen perubahan (agent of change). Turunnya rezim Orde Lama, peristiwa Malari, dan turunnya rezim Orde Baru adalah prestasi kaum muda Indonesia pada saat itu. Namun sekarang, semangat itu seakan luntur dan terus merosot dengan banyaknya tantangan permasalahan di negeri ini.

Media sebagai satu-satunya sumber informasi saat ini telah memberikan perngaruh besar terhadap sikap yang dimiliki para pendengar dan pembacanya. Media seharusnya menjadi pemantik untuk kaum pemuda berpikir kritis, namun yang terjadi sebaliknya hal ini telah menbentuk sikap pesimistis dan cenderung apatis terhadap masalah bangsa ini. Hal ini memang terbukti ketika banyaki teman penulis yang cenderung menghindari obrolah yentang masalah-masalah di negeri ini. Erick Hiariej, Ph.D. (dosen Hubungan Internasional) dalam seminar tentang Komunikasi, Kaum Muda, dan Permasalahan Bangsa, mengatakan bahwa mahasiswa sekarang memiliki isu-isu yang lemah mengenai kritisasi terhadap masalah masalah negeri ini. Ini menjadi sumber utama mengapa masalah negeri saat ini cenderung dihadapi pesimis dan apatis oleh pemuda negeri ini.

Proses atomisasi pemuda saat ini telah menjadikan pemuda bersikap apatis dan pesimis. Saat ini pemuda hampir kehilangan jati dirinya, yang seharusnya menjadi makhluk sosial, saat ini pemuda menjadi masyarakat yang cenderung individualistik. Hal ini dikarenakan perubahan sosial yang sangat berbeda dengan yang dulu. Situasi saat ini banyak yang tidak mendukung dengan adanya membentuk kritisasi terhadap suatu permasalahan karena banyaknya perubahan yang ada di kehidupan sosial sekarang. Erick menambahkan, dahulu pemuda sangat fokus terhadap suatu permasalahan dikarenakan situasinya yang tidak mendukung untuk nir-fokus. Hal itu berefek pada banyak hal, salah satunya adalah kritisasi terhadap permasalahan bangsa.

Hal ini yang seharusnya menjadi fokus utama dalam menyelesaikan berbagai aspek persoalan mengapa pemuda saat ini cenderung untuk pesimis dan apatis menghadapi sesuatu. Peran media sebagai pemantik dalam berpikir kritis perlu untuk dikaji ulang. Apa yang menjadi faktor penyebab pemuda mengalami degradasi optimis dan cenderung untuk besikap acuh mengenai masalah negeri ini. Tores Torganda Simamoradebataraja dalam tulisannya di Kompasiana.com pada tanggal 15 September 2011 mengatakan bahwa:

Generasi muda sekarang pada umumnya mengalami sebuah perubahan yang mendasar, yakni adanya pergeseran pola pikir dan cara pandang seseorang dalam melihat suatu pokok permasalahan. Generasi muda saat ini sepertinya mengalami kehilangan harapan akan cita-cita mereka sehingga hanya mengikuti arus perubahan saja tanpa bagaimana memikirkan hal-hal yang ingin dicapai.

Inilah perubahan mendasar pada diri kaum pemuda. Entah dimana letak kesalahan media dalam memberitakan, namun jati diri pemuda saat ini terasa hilang dengan banyaknya masalah yang dihadapi oleh negeri ini. Semangat perjuangan untuk menapak tilas mengenai kehebatan pemuda Indonesia seakan lemah terdegradasi oleh zaman. Namun hal ini tidak boleh berlarut-larut. Pemuda sebagai harapan penerus bangsa harus menjadikan diri mereka sebagai pembentuk perubahan dan iron stock. Pemudalah yang akan memikul tanggung jawab mengenai permasalahan negeri ini. Maka dari itu, sikap optimis dengan semangat menggelora perlu dihidupkan kembali. Membangkitkan pemuda yang penuh gejolak optimis untuk kehidupan Indonesia yang lebih baik lagi.

Referensi
Simamoradebataraja, Tores Torganda. Dalam m.kompasiana.com/post/sosbud/2011/09/15/generasi-muda-yang-percaya-diri-optimis-bertanggung-jawab-berintegritas-dan-memiliki-tekad-sudah-hilangkah/ diunduh pada tanggal 23 Oktober 2011 pukul 19.44WIB
Anies Baswedan. KOMPAS tanggal 27 Oktober 2008

GAME ONLINE : DAMPAK UMUM TERGHADAP KEHIDUPAN SOSIAL REMAJA

Perkembangan permainan anak dari hari ke hari semakin beragam. Seiring berkembanya teknologi, permainan anak pun menjamur dengan terintegrasi denga teknologi itu sendiri. Lainnya, banyak anak dan banyak remaja mulia meninggalkan permainan asli Indonesia. Perkembangan teknologi juga tidak serta merta membuat permainan anak (selanjutnya disebut dengan games) berkembang. Berawal dengan bentuk games dalam video, seperti video-games ataupun plays station, hingga saat ini berkembang internet-games (games online), seiring dengan perkembangan internet yang semakin masif dalam masyarakat.

Menjamurnya pusat-pusat games online kemudian menjadi permasalahan baru terhadap dampak yang terjadi dengan remaja. Ironi kembali terjadi ketika penulis menemukan fakta yang terjadi di lapangan, banyak remaja yang masih berseragam sekolah masuk dalam jasa penyedia layanan games online dan bermain dalam waktu yang lama. Games online yang memang banyak di-design dengan sesi permainan yang panjang membuat pemainnya tahan berlama-lama menikmati permainan. Inilah pemain masuk dalam fase kecanduan. Menurut Van Raij dalam Fahlevi (2011), berpendapat bahwa fase kecanduan games dapat didefinisikan sebagai kehilangan kontrol dalam bermain games yang dapat menimulkan kerugian yang signifikan.

Pada tahap kecanduan ini, pemain akan cenderung anti terhadap sosialnya. Walaupun dalam faktanya games online dapat melakukan online-chating dengan sesama pemain, pemain sendiri merefleksikan dirinya dalam bentuk karakter dalam games dan anonim. Inilah yang menjadi kasus selanjutnya, pemain cenderung untuk bertingkah laku sesuai dengan karakter dari games yang dia mainkan, perkembangan ini dari sisi psikologis
juga akan berpengaruh terhadap kehidupan sosial yang terjadi pada dirinya.

Hal inilah kemudian mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap perkembangan games online mejadi negatif dan cenderung pesimistis. Masyarakat dalam hal ini orang tua akan menempatkan games online bisa berdampak buruk, hingga merusak kehidupan para pemainnya. Ada kekhawatiran orang tua jika permainan komputer games tersebut akan menggiring anak-anak pada perilaku yang menyimpang seperti kekerasan, seks tak terkendali, serta lahirnya perilaku antisosial seperti isolasi dan alienasi (Syafrizal, 2004 : 9). Banyaknya waktu dihabiskan di depan layar monitor, membuat mereka seakan lupa bahwa mereka adalah makhluk yang bersosial. Hal terparah adalah mereka bermain hingga lupa waktu dan dapat mengganggu sekolah dan belajar mereka yang seharusnya menjadi tanggung jawab utama.

Sebagai seorang remaja, umumnya mereka adalah anak yang tergabung dalam kelompok-kelompoknya (peel group), menyukai hal-hal baru, menjalin relasi dengan lawan jenisnya, dan berinteraksi secara intens dengan orang yang menjadi orang kepercayaan. Namun, ketika pemain games online menjadi pecandu, hal ini akan bertolak belakang dengan karakter remaja yang sesungguhnya. Kehidupan antisosial seakan menjadi gerbang utama untuk mereka jalani. Efek yang ditimbulkan juga beragam, selain menjadi antisocial, remaja saat ini cenderung melupakan bentuk permainan asli negerinya. Selain itu, pemain games online juga cenderung konsumtif karena harus mengeluarkan rupiah untuk bermain. Hal ini juga didukung dengan tidak adanya kontrol ketat dan kurangnya informasi dari orang tua.

Oleh karena itu, tingkat kesadaran pemain games online perlu ditingkatkan, bahwa mereka adalah makhluk sosial yang memerlukan interaksi untuk aktualisasi diri. Ini juga memerlukan dukungan kuat dari orang tua untuk selalu mengawasi perkembangan sosial anaknya. Namun yang menjadi pertanyaan, faktor apa yang menyebabkan mereka menjadi pecandu, itu perlu diteliti lebih jauh lagi.

Referensi :
Syafrizal, 2004. Etnografi Computer, Yogyakarta : Grha Guru.
www.kompasiana.com/post/ne-media/2011/07/05-game–online–pandangan–umum–mengenai–Implikasi–sosial–psikologi–dan–ekonomi–yang–dihadapi–pemain–game/ dikutip pada tanggal 14 Oktober 2011 pukul 23.24.