Tuesday, September 27, 2011

GALAU...

Suasana yang menyenangkan siang ini. Pada akhirnya juga, kuliah dasar-dasar penulisan yang sempat minggu lalu kosong karena sang dosen ada keperluan, hari ini terisi juga. Pembawaan santai sang dosen dan cenderung “membebaskan” mahasiswanya membuat mata kuliah ini menyenangkan. Setelah perkenalan yang nyentrik dari Mas Nunung, sang dosen, di akhir pertemuan ini, kita pun diberi tugas. Tugas yang cukup membebaskan pemikiranku serta cenderung untuk berpikir liar kalau kata sang dosen.
Ketika beranjak dari ruangan yang ada di lantai tiga, aku menuruni anak tangga seperti tanpa ada beban. Namun, setibanya aku di lantai dua, pandangan mataku fokus pada satu wajah. Wajah yang beberapa hari ini “menghantui” pikiranku dan seperti biasanya, dia hanya menaikkan alis matanya untuk menyapaku. Bahasa tubuh yang sering kulihat ketika bertemu dengannya di kampus ini.
Bahasa tubuhnya pun sering aku tanyakan kepadanya. Entah apa yang terjadi dengannya, jawaban tentang itu tak sekalipun meluncur darinya. Perilakunya yang berubah sejak kita berdua kembali ke Jogja, menjadi beban yang sepertinya berat dan susah untuk diselesaikan. Sikap dinginnya seolah mematikan sikapku untuk menghadapinya. Apa yang harus aku lakukan?
Pagi, siang, dan malam pesan-pesan meluncur dari telepon genggamku untuknya. Tak sekalipun dibalasnya. Aku seperti stuck dengan sikap dia. Dia seperti bongkahan es di freezer yang tak dapat dilelehkan. Apakah aku harus melakukan pengakuan ketigaku bahwa aku masih menunggunya? Entahlah. Namun, suasana menyenangkan itu kembali berkabut dan hingga tulisan ini terketik kabut itu tak juga menghilang.

Perjuangan ini Teruntuk Ibuku Tercinta

Saya berasal dari keluarga sederhana. Pendidikan seadanya sehingga mempengaruhi pola hidup yang dijalani oleh orang tua saya dulu. Namun ketekunan itu memang selalu menjadi bahan modal untuk kita maju. Maju melecut menjadi seseorang yang berprinsip, memiliki mimpi, pantang mundur, dan selalu semangat. Itulah yang dikejar orang tua saya hingga saat ini.
Berbekal pengetahuan dan skill usaha yang kurang mumpuni menurut saya, tapi saya yakin ayah saya adalah orang hebat. Orang yang selalu berjuang dlm segala mimpi dan asanya, semua itu hanya dan teruntuk hanya keluarganya. Modal kerja keras ada pada dirinya dan itu yang membuat saya semangat hingga saat ini. Namun, umur tiada orang pernah tahu. Allah terlalu sayang hingga memanggilnya dalam usia yang bisa dibilang mulai menginjak matang.
Apakah itu menjadikan saya dan ibu berputus asa? Tidak! Itu jawaban kami. Sejak tahun 2000 ibu adalah yang menghidupi anak-anaknya seorang diri. Berjuang bangun pagi untuk berjualan. Pesannya tiap pagi hanyalah, “yang penting kamu sekolah tinggi, dapat pekerjaan yang lebih baik dari ibu dan ayah.” Ya, hanya itu pesannya. Semenjak SMP saya mencoba untuk memandirikan diri saya secara lebih dini. Mematangkan pikiran untuk menjadikan saya dewasa dan ingin segera membantu ibu.
Syukur, tiap detik kita sekeluarga masih diberikan anugrah yang tiada terkira. Salah satu dari keluarga kami ada yang sukses dan bersedia menampung saya dan membiayai kehidupan dan pendidikan saya hingga sarjana. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Saya berangkat ke Jogja untuk melanjutkan pendidikan SMK di SMK Indonesia Yogyakarta, sampai di tahun 2010 saya diberikan gelar sebagai asisten apoteker. Namun, mengapa saya bisa “nyasar” ke FISIPOL UGM? Banyak cerita yang ada dibalik kisah itu.
Cita-cita saya sebenarnya adalah menjadi seorang dokter. Walau saya meyakini, secara finansial keluarga tidak mampu, serta saya harus sadar diri bahwa pendidikan saya dibiayai orang lain. Di pertengahan sekolah di SMK saya mulai menemukan titik kebosanan itu, titik dimana saya lelah untuk belajar menghafalkan ilmu alam seperti reaksi kimia hingga kimia organik.
Suatu ketika saya menemukan wadah, debat berbahasa inggris. Berawal dari situ saya menemukan passion untuk belajar ilmu sosial. Hingga saya tertarik untuk membaca koran, membaca buku tentang politik, sosial, psikologi dan masih banyak lagi. Tidak hanya itu, dibeberapa event sekolah saya saring diminta untuk menjadi MC. Belajar menulis dengan bergabung menjadi wartawan KACA Kedaulatan Rakyat, hingga terakhir mencoba untuk belajar menjadi Radio Announcer. Dan itu semua saya menyenanginya, menyukainya hingga bahkan membuat saya jatuh cinta. Di situlah awal mengapa pilihan saya jatuh pada Ilmu Komunikasi karena itu sesuai dengan bakat dan minat saya.
Ibu pernah berpesan, “Kesuksesanmu yang menentukan kamu sendiri, Ibu hanya bisa mencari dan mewarisi ilmu yang kamu dapat disetiap jenjang pendidikanmu.” Itu saya pegang terus hingga saat ini. Kebanggaan itu semakin jadi ketika saya diterima di UGM. Kampus yang selama ini buat ibu adalah mustahil untuk anaknya bersekolah di sana. Dan saya membuktikannya. Insyallah, perjuangan saya adalah perjuangan disetiap doa yang dilantunkan ibu. Perjuangan dari setiap peluh saudara yang bersedia menyekolahkan saya.
Keinginan saya hanyalah, saya memiliki pekerjaan yang layak dan pantas untuk meneruskan perjuangan lelah ibu. Menyekolahkan adik yang masih kecil. Dan membuat keluarga saya bahagia. Keinginan yang bagi banyak orang mungkin sederhana, namun bagi saya itu memerlukan usaha keras dan perjuangan. Karena saya juga ingin merasakan perjuangan orang tua saya dulu, agar memiliki cerita indah di depan nanti. Semoga.

Aku Membangun Indonesia

Melihat kondisi bangsa kita saat ini seperti melihat sebuah negara yang terlihat bagus di luar namun seperti pepesan kosong di dalamnya. Gaung demokrasi yang dikibarkan hingga kini tidak memberikan kontribusi nyata untuk kemajuan Indonesia. Bahkah, cenderung menurun, seperti bangsa yang tidak memiliki integritas dan kekayannya bisa dirampas oleh pihak lain. Apakah sebagai generasi penerusnya kita rela?
Masuk dalam fakultas ilmu sosial dan politik sebernarnya adalah sebuah jalan menuju perbaikan Indonesia di masa yang akan datang. FISIPOL bisa sebagai wadah yang dapat menempa kita untuk lebih bersikap kritis terhadap suatu permasalahan bangsa serta juga memberikan pembelajaran etika berpolitik yang nyata.
Demokrasi yang dibangun di negara kita adalah demokrasi politik. Duduk di dalamnya ada wakil rakyat yang selalu memonitoring kinerja pemerintahan. Nah, ini berarti jalan yang dapat kita tempuh untuk membangun bangsa ini ada dua cara, dengan bergabung menjadi bagian dari pemerintah sebagai pelaksana kebijakan atau berpolitik sebagai wakil rakyat yang selalu merumuskan bersama aturan main dalam pemerintahan.
Kedua cara ini memang terasa tidak mudah. Keduanya sama-sama susah. Masih ingatkah kita bahwa negara kita dibangun atas dasar kemandirian? Nah dari situ sebenarnya saya berkeinginan untuk berada diluar jalur politik maupun pemerintah. Pemerintah biarlah menjalankan aturan yang sudah ditetapkan, kita yang diluar adalah dengan cara membantu pemerintah untuk mempersiapkan generasi penerus yang memiliki integritas dan kemampuan bersosialisasi yang mumpuni.
Saya ingin mengajarkan ilmu yang saya dapatkan kepada generasi muda. Generasi yang masih segar untuk melakukan terobosan baru sesuai dengan idenya. Memberikan kontribusi melalui pendidikan juga merupakan bagian dari kita mempersiapkan para generasi yang akan duduk di pemerintahan maupun wakil rakyat.
Selain itu saya juga ingin menjadi orang yang ada untuk memberikan sumbangan pemikiran-pemikiran yang menurut saya baik. Bukan hanya kritikan yang tidak solutif terhadap suatu permasalahan. Suatu saat saya ingin duduk bersama membangun bangsa ini dengan penuh optimisme melalui proses pemberian pemikiran-pemikiran.
Tidak hanya itu, membangun negeri tidaklah harus kita terlibat langsung dalam urusan ketatanegaraan. Biarlah itu menjadi bagiab tugas bagi para pemangku jabatan negri ini. Tugas kita adalah memberikan nyala api optimisme hidup kepada setiap orang. Sekali orang itu optimis untuk maju, banyak diantara kita yang akan mendorong pemerintah bergerak optimis dengan kita. Ini adalah gerakan kesinambungan. Ketika optimisme bangsa menyala, semua komponen akan bekerja sesuai dengan bidangnya dan itu bisa mempersatukan bangsa ini menjadi bangsa yang lebih bermartabat.
Saya melalui jebolan dari fakultas ilmu sosial dan politik wajib peka terhadap lingkungan. Bagaimana lingkungan itulah yang akan membentuk jati diri suatu wilayah hingga bangsa ini. Kepekaan kita wajib teruji setiap waktu, dan kita selalu dihadapkan pada permasalahan kompleks bangsa yang tiada pernah usai. Kepekaan itu akan membantu kita untuk bisa menganalisis permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat. Sehingga melaui itu kita bisa tahu dimana letak potensi yang akan mewujudkan optimisme.
Maka pada saatnya nanti, melalui fisipol saya ingin memberikan sumbangsih pemikiran saya kepada negara dengan selalu membarakan jiwa optimis dan peka terhadap permasalahan lingkungan. Karena dengan keduanya itulah yang akan membawa bangsa kita menjadi bangsa yang besar asalkan ditangani oleh orang yang keras dan memiliki integritas tinggi dalam setiap kepemimpinannya.

Nb: tulisan ini dipenuhi untuk tugas PPSMB Sosphomorphosa 2011 FISIPOL UGM