Tuesday, September 27, 2011

Perjuangan ini Teruntuk Ibuku Tercinta

Saya berasal dari keluarga sederhana. Pendidikan seadanya sehingga mempengaruhi pola hidup yang dijalani oleh orang tua saya dulu. Namun ketekunan itu memang selalu menjadi bahan modal untuk kita maju. Maju melecut menjadi seseorang yang berprinsip, memiliki mimpi, pantang mundur, dan selalu semangat. Itulah yang dikejar orang tua saya hingga saat ini.
Berbekal pengetahuan dan skill usaha yang kurang mumpuni menurut saya, tapi saya yakin ayah saya adalah orang hebat. Orang yang selalu berjuang dlm segala mimpi dan asanya, semua itu hanya dan teruntuk hanya keluarganya. Modal kerja keras ada pada dirinya dan itu yang membuat saya semangat hingga saat ini. Namun, umur tiada orang pernah tahu. Allah terlalu sayang hingga memanggilnya dalam usia yang bisa dibilang mulai menginjak matang.
Apakah itu menjadikan saya dan ibu berputus asa? Tidak! Itu jawaban kami. Sejak tahun 2000 ibu adalah yang menghidupi anak-anaknya seorang diri. Berjuang bangun pagi untuk berjualan. Pesannya tiap pagi hanyalah, “yang penting kamu sekolah tinggi, dapat pekerjaan yang lebih baik dari ibu dan ayah.” Ya, hanya itu pesannya. Semenjak SMP saya mencoba untuk memandirikan diri saya secara lebih dini. Mematangkan pikiran untuk menjadikan saya dewasa dan ingin segera membantu ibu.
Syukur, tiap detik kita sekeluarga masih diberikan anugrah yang tiada terkira. Salah satu dari keluarga kami ada yang sukses dan bersedia menampung saya dan membiayai kehidupan dan pendidikan saya hingga sarjana. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Saya berangkat ke Jogja untuk melanjutkan pendidikan SMK di SMK Indonesia Yogyakarta, sampai di tahun 2010 saya diberikan gelar sebagai asisten apoteker. Namun, mengapa saya bisa “nyasar” ke FISIPOL UGM? Banyak cerita yang ada dibalik kisah itu.
Cita-cita saya sebenarnya adalah menjadi seorang dokter. Walau saya meyakini, secara finansial keluarga tidak mampu, serta saya harus sadar diri bahwa pendidikan saya dibiayai orang lain. Di pertengahan sekolah di SMK saya mulai menemukan titik kebosanan itu, titik dimana saya lelah untuk belajar menghafalkan ilmu alam seperti reaksi kimia hingga kimia organik.
Suatu ketika saya menemukan wadah, debat berbahasa inggris. Berawal dari situ saya menemukan passion untuk belajar ilmu sosial. Hingga saya tertarik untuk membaca koran, membaca buku tentang politik, sosial, psikologi dan masih banyak lagi. Tidak hanya itu, dibeberapa event sekolah saya saring diminta untuk menjadi MC. Belajar menulis dengan bergabung menjadi wartawan KACA Kedaulatan Rakyat, hingga terakhir mencoba untuk belajar menjadi Radio Announcer. Dan itu semua saya menyenanginya, menyukainya hingga bahkan membuat saya jatuh cinta. Di situlah awal mengapa pilihan saya jatuh pada Ilmu Komunikasi karena itu sesuai dengan bakat dan minat saya.
Ibu pernah berpesan, “Kesuksesanmu yang menentukan kamu sendiri, Ibu hanya bisa mencari dan mewarisi ilmu yang kamu dapat disetiap jenjang pendidikanmu.” Itu saya pegang terus hingga saat ini. Kebanggaan itu semakin jadi ketika saya diterima di UGM. Kampus yang selama ini buat ibu adalah mustahil untuk anaknya bersekolah di sana. Dan saya membuktikannya. Insyallah, perjuangan saya adalah perjuangan disetiap doa yang dilantunkan ibu. Perjuangan dari setiap peluh saudara yang bersedia menyekolahkan saya.
Keinginan saya hanyalah, saya memiliki pekerjaan yang layak dan pantas untuk meneruskan perjuangan lelah ibu. Menyekolahkan adik yang masih kecil. Dan membuat keluarga saya bahagia. Keinginan yang bagi banyak orang mungkin sederhana, namun bagi saya itu memerlukan usaha keras dan perjuangan. Karena saya juga ingin merasakan perjuangan orang tua saya dulu, agar memiliki cerita indah di depan nanti. Semoga.

No comments:

Post a Comment