Dewasa ini kita sering mendengar berita di televisi, radio, maupun surat kabar yang membahas banyak sekali hal yang menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara. Baik itu sistem ketatanegaraan, masalah politik, ataupun hukum yang sepertinya tidak pernah berhenti pada titik kulminasi mengenai terselesaikannya masalah-masalah yang dihadapi oleh rezim bangsa ini. Hal itu juga diikuti dengan menurunnya semangat pemuda kita dalam menyelesaikan masalah-masalah bangsa yang sebenarnya menjadi tugas dan bagian dari mereka. Setelah hampir 83 tahun Sumpah Pemuda digulingkan, semangat tentang optimisme pemuda seakan luntur dan melorot. Anies Baswedan dalam opininya di Kompas pada tanggal 27 Oktober 2008 mengatakan :
Belakangan ini diskusi tentang Indonesia sering diwarnai perasaan suram. Dalam berbagai forum, di hotel berbintang hingga di warung kopi, diwarnai keluh kesah. Gelembung semangat yang dulu dikagumi di Asia bahkan dunia, kini seolah kempes. Bangsa ini sedang dilibas pesimisme kolektif. Bahasa bersama adalah bahasa pesimistis. Kondisi ini benar-benar tidak sehat.
Pemuda kita pernah berjaya dan berperan penting dalam menyelesaikan permasalahan bangsa dan memberikan kontribusi sebagai agen perubahan (agent of change). Turunnya rezim Orde Lama, peristiwa Malari, dan turunnya rezim Orde Baru adalah prestasi kaum muda Indonesia pada saat itu. Namun sekarang, semangat itu seakan luntur dan terus merosot dengan banyaknya tantangan permasalahan di negeri ini.
Media sebagai satu-satunya sumber informasi saat ini telah memberikan perngaruh besar terhadap sikap yang dimiliki para pendengar dan pembacanya. Media seharusnya menjadi pemantik untuk kaum pemuda berpikir kritis, namun yang terjadi sebaliknya hal ini telah menbentuk sikap pesimistis dan cenderung apatis terhadap masalah bangsa ini. Hal ini memang terbukti ketika banyaki teman penulis yang cenderung menghindari obrolah yentang masalah-masalah di negeri ini. Erick Hiariej, Ph.D. (dosen Hubungan Internasional) dalam seminar tentang Komunikasi, Kaum Muda, dan Permasalahan Bangsa, mengatakan bahwa mahasiswa sekarang memiliki isu-isu yang lemah mengenai kritisasi terhadap masalah masalah negeri ini. Ini menjadi sumber utama mengapa masalah negeri saat ini cenderung dihadapi pesimis dan apatis oleh pemuda negeri ini.
Proses atomisasi pemuda saat ini telah menjadikan pemuda bersikap apatis dan pesimis. Saat ini pemuda hampir kehilangan jati dirinya, yang seharusnya menjadi makhluk sosial, saat ini pemuda menjadi masyarakat yang cenderung individualistik. Hal ini dikarenakan perubahan sosial yang sangat berbeda dengan yang dulu. Situasi saat ini banyak yang tidak mendukung dengan adanya membentuk kritisasi terhadap suatu permasalahan karena banyaknya perubahan yang ada di kehidupan sosial sekarang. Erick menambahkan, dahulu pemuda sangat fokus terhadap suatu permasalahan dikarenakan situasinya yang tidak mendukung untuk nir-fokus. Hal itu berefek pada banyak hal, salah satunya adalah kritisasi terhadap permasalahan bangsa.
Hal ini yang seharusnya menjadi fokus utama dalam menyelesaikan berbagai aspek persoalan mengapa pemuda saat ini cenderung untuk pesimis dan apatis menghadapi sesuatu. Peran media sebagai pemantik dalam berpikir kritis perlu untuk dikaji ulang. Apa yang menjadi faktor penyebab pemuda mengalami degradasi optimis dan cenderung untuk besikap acuh mengenai masalah negeri ini. Tores Torganda Simamoradebataraja dalam tulisannya di Kompasiana.com pada tanggal 15 September 2011 mengatakan bahwa:
Generasi muda sekarang pada umumnya mengalami sebuah perubahan yang mendasar, yakni adanya pergeseran pola pikir dan cara pandang seseorang dalam melihat suatu pokok permasalahan. Generasi muda saat ini sepertinya mengalami kehilangan harapan akan cita-cita mereka sehingga hanya mengikuti arus perubahan saja tanpa bagaimana memikirkan hal-hal yang ingin dicapai.
Inilah perubahan mendasar pada diri kaum pemuda. Entah dimana letak kesalahan media dalam memberitakan, namun jati diri pemuda saat ini terasa hilang dengan banyaknya masalah yang dihadapi oleh negeri ini. Semangat perjuangan untuk menapak tilas mengenai kehebatan pemuda Indonesia seakan lemah terdegradasi oleh zaman. Namun hal ini tidak boleh berlarut-larut. Pemuda sebagai harapan penerus bangsa harus menjadikan diri mereka sebagai pembentuk perubahan dan iron stock. Pemudalah yang akan memikul tanggung jawab mengenai permasalahan negeri ini. Maka dari itu, sikap optimis dengan semangat menggelora perlu dihidupkan kembali. Membangkitkan pemuda yang penuh gejolak optimis untuk kehidupan Indonesia yang lebih baik lagi.
Referensi
Simamoradebataraja, Tores Torganda. Dalam m.kompasiana.com/post/sosbud/2011/09/15/generasi-muda-yang-percaya-diri-optimis-bertanggung-jawab-berintegritas-dan-memiliki-tekad-sudah-hilangkah/ diunduh pada tanggal 23 Oktober 2011 pukul 19.44WIB
Anies Baswedan. KOMPAS tanggal 27 Oktober 2008
No comments:
Post a Comment